Home LAPORAN UTAMA LDR Yogyakarta-Banjarmasin bersama E-Learning 7in1

LDR Yogyakarta-Banjarmasin bersama E-Learning 7in1

64
0

Long Distance Relationship (LDR), tak hanya berlangsung antara muda-mudi yang dirundung asmara. Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin yang mengambil kelas jarak jauh dengan aplikasi Be-Smart di Pendidikan Tata Boga UNY, juga bisa merasakannya. Begitu pula antar kampus 7in1 lainnya. Berkat e-learning, segala proses LDR itu terasa begitu dekat.

Dalam pertemuan kelima kelas Pengetahuan Bahan Pangan di Prodi Pendidikan Tata Boga, Dr. Mutiara Nugraheni menjabarkan struktur biologis ikan dan beragam produk hewani laut lainnya, sembari menyajikan cara mengolah produk-produk tersebut dengan baik tanpa menghilangkan nilai-nilai gizinya. Namun kelas yang berisikan konsep teoritis, faktual, dan prosedural tentang sifat-sifat bahan pangan itu, tak lagi diajarkan dengan tatap muka membosankan via buku diktat di dalam kelas.

Jam kuliah justru dilakoni sang pengajar dari salah satu ruang di Fakultas Teknik (FT) sembari duduk di depan laptop. Menyaksikan para mahasiswa yang mengakses dan mengerjakan penugasan melalui aplikasi Be-Smart, serta sesekali memberi masukan dalam diskusi yang berlangsung melalui chat daring maupun video call.

Hal serupa juga berlangsung ketika sang dosen memaparkan bagaimana pembelajaran jarak jauh (PJJ) tersebut berlangsung kepada Dirjen Belmawa Kemristekdikti Prof. Intan Ahmad bersama para rektor universitas yang tergabung dalam 7in1 lewat video conference dari FT. Menghubungkan Digital Library dengan fakultas yang terletak 5-10 menit jika berjalan kaki tersebut, termasuk dengan 20 mahasiswa asal ULM yang juga mengambil mata kuliah yang ia ampu dan membuatnya seakan tak berjarak.

“Izin melaporkan Pak Intan. Saya Mutiara Nugrahaeni bersama dua dosen kelas ini (Ichda Chayati, MP., dan Andian Ari Anggraeni, M.Sc.), sudah tiga tahun mendapat amanah mengampu mata kuliah online. Semua melalui forum dan video conference daring, dan diikuti secara real time oleh 128 mahasiswa UNY dan 20 mahasiswa dari ULM,” ungkap Mutiara disambut gemuruh tepuk tangan peserta soft launching sekaligus apresiasi dari sang Dirjen.

Intan juga memandang, bahwa PJJ dapat menjadi terobosan di era disrupsi digital yang harus terus digaungkan agar Indonesia tak ketinggalan dengan bangsa lain. Dengan program PJJ, belajar ia harapkan tak lagi dibatasi sekat-sekat ruang maupun institusi jurusan, tapi menjadi universal sembari membuat hubungan jarak jauh serasa menyenangkan.

“Jadi tidak ada nanti Long Distance Relationship (LDR) yang complicated seperti anak-anak muda kita biasa lihat. LDR dalam proses E-Learning, serasa begitu dekat dan mendekatkan,” tegas Intan.

Sistem Pembelajaran Daring Indonesia

Sebagai program yang diinisiasi Ditjen Belmawa Kemristekdikti (sebelumnya Dit Belmawa Kemdikbud) untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pembelajaran bermutu di Perguruan Tinggi, Sistem Pembelajaran Daring Indonesia (SPADA) diluncurkan oleh Wakil Presiden Boediono pada 2014 lalu. Mendikbud pada saat itu, Mohammad Nuh, mengungapkan bahwa kuliah daring merupakan langkah terobosan untuk penyediaan pendidikan bermutu dan terjangkau bagi segenap bangsa Indonesia dalam waktu singkat dengan biaya terjangkau.

Pada 2014, enam perguruan tinggi memperoleh izin resmi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) untuk menyelenggarakan kuliah online, yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Gadjah Mada, STMIK AMIKOM Yogyakarta, dan Universitas Bina Nusantara. pada awalnya 30 mata kuliah dirilis guna penyelenggaraan kuliah online tersebut, dengan standar isi dan proses kuliah daring mengacu kepada standar nasional pendidikan, dan standar internasional untuk e-learning.

“Sehingga pada awal dirilis, tujuannya memang meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK), yang pada 2017 lalu juga baru menyentuh 31,5%,” ungkap Intan.

Kebanyakan dari mereka yang belum mampu menempuh Pendidikan Tinggi, layaknya diungkapkan oleh Menristekdikti Mohamad Nasir dalam apat Kerja Kopertis Wilayah XIV Papua dan Papua Barat yang dilaksanakan di Indoluxe Hotel Yogyakarta (07/03/2018), berlangsung akibat banyak aspek yang sifatnya multidimensional. Termasuk diantaranya, tingkat ekonomi dan keterbatasan fasilitas perguruan tinggi yang ada di wilayah-wilayah tertentu.

PJJ kemudian dipandang oleh sang menteri menjadi salah satu solusi tepat untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi di daerah tersebut. Terlebih lagi, Kemristekdikti telah memiliki aturan yang dapat menjadi acuan dalam penyelenggaraan PJJ, sehingga baik perguruan tinggi negeri maupun swasta dapat menjalankan program tersebut tanpa menanggalkan kualitas yang mampu dihadirkan dalam tatap muka.

“Sehingga kami optimis, karena kalau kita sekadar kejar mengembangkan kampus secara konvensional rata-rata peningkatan APK hanya 0,5% per tahun, dengan PJJ saya optimis APK bisa di angka 40% pada tahun 2022-2023,” jelas Nasir.

Pengembangan PJJ tersebut, kemudian dirintis UNY melalui portal Be-Smart pada tahun 2006. Konsep Blended learning yang memadukan pelaksanaan pembelajaran berbasis daring tanpa menanggalkan tatap muka, berlangsung sejak saat itu. Beberapa kelas yang mengambil fitur daring secara penuh layaknya Pengetahuan Bahan Pangan, juga mulai bermunculan. Pengembangan Digital Library dan infrastuktur berbasis digital yang didukung oleh proyek IDB, termasuk diantaranya mengembangkan jaringan internet yang baik, menjadi stimulus untuk hal tersebut.

“Termasuk untuk terus mengoptimalisasi UNY yang sudah bergabung dalam kolaborasi berbasis SPADA. 102 kelas dan modul berbasis online course, sudah bisa diakses antar mahasiswa kampus 7in1. E-learning bareng-bareng lintas kampus,” ungkap Intan.

Ambil SKS di Kampus Lain

Untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu kooperasi yang telah muncul dalam SPADA dan melibatkan UNY di dalamnya, ialah melakukan semacam kerjasama transfer kredit berbasis e-learning. Kolaborasi antar kampus yang tergabung dalam kerjasama 7in1, memberikan mahasiswa dalam universitas-universitas tertentu untuk mengambil mata kuliah di kampus lain secara daring sesuai kesepakatan dan kebutuhan antar prodi. SKS yang diambil di kampus lain tersebut, nantinya akan diakui oleh masing-masing universitas dan masuk ke dalam transkrip ijazah.

Kelas Pengetahuan Bahan Pangan misalnya, telah menerapkan pembelajaran berbasis e-learning ini untuk tahun ketiga. 20 mahasiswa ULM yang baru tahun pertama mengikuti pembelajaran berbasis e-learning di UNY tersebut nantinya akan memperoleh nilai setara dengan 3 SKS. Namun berbeda dengan transfer kredit biasa yang mewajibkan para mahasiswa untuk kuliah hanya di universitas tujuan, layaknya mahasiswa yang sedang pertukaran pelajar ke luar negeri, kerjasama berbasis SPADA ini memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di universitasnya sendiri dan di kampus lain secara simultan.

“Sehingga walaupun dia mengambil mata kuliah Pengetahuan Bahan Pangan, para mahasiswa ULM ini tetap bisa mengambil mata kuliah yang ada di universitasnya sendiri. Misal dia memiliki jatah total 24 SKS, maka 3 SKSnya sedang diambil di UNY dan 21 SKSnya diambil di ULM atau kampus-kampus 7in1 lainnya,” ungkap Prof. Herman Dwi Sujono, Ketua Prodi S2 Teknologi Pembelajaran UNY yang juga sempat menjabat sebagai Ketua Tim E-Learning Project IDB 7in1 Ditjen Belmawa.

Beberapa dari 102 kelas dan modul yang saat ini digelar dalam kerjasama E-Learning 7in1, diantaranya adalah Matkul Inovasi Pendidikan di Universitas Gorontalo, Matkul Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) di Universitas Tanjung Pura Pontianak, dan Matkul Pengantar Statistika di Universitas Syiah Kuala Aceh. Masing-masing mata kuliah tersebut juga telah diambil mahasiswa lintas kampus, misalnya Matkul Inovasi Pendidikan yang juga diambil oleh 50 Universitas Negeri Surabaya, dan Matkul PSDA yang diambil 10 mahasiswa ULM.

“Ini baik bagi para mahasiswa untuk mendapat exposure sekaligus merasakan dan membandingkan, kualitas kuliah di antar kampus. Ke depan harapannya semua karena terpapar, jadi makin berkolaborasi dan belajar satu sama lain agar berkembang. Sekaligus, kerjasama antar kampus 7in1 ini bisa jadi rujukan untuk kolaborasi yang lebih luas,” ungkap Intan.

Ke depan, trajektori UNY dalam upaya untuk mengembangkan inklusifitas perguruan tinggi sekaligus menyongsong era digital, juga akan terus mengembangkan dan membuka akses PJJ layaknya diinisiasi oleh Kemristekdikti. Rektor UNY Prof. Sutrisna Wibawa mengungapkan bahwa hal tersebut sejalan dengan upaya UNY untuk turut serta menyukseskan program pendidikan negeri sekaligus menghadirkan diri bagi masyarakat secara luas.

“Apalagi waktu itu (Groundbreaking Gedung IDB, Juni 2017), Pak Menteri (Moh. Nasir, Menristekdikti) sudah ngendikan minta UNY menambah mahasiswa. Pesan tersebut akan kita kaji selalu dengan kapasitas yang ada. Apalagi Gedung IDB nantinya juga akan memberi ruang, dan kolaborasi e-learning IDB serta kemajuan pesat teknologi memberikan kita kesempatan untuk terus berkembang dan maju,” pungkas Sutrisna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here