Sebagai institusi yang fokus di bidang kependidikan membuat UNY tak hanya berperan meluluskan mahasiswa yang ahli di bidang pendidikan. Melainkan mampu bermanfaat dan memberi solusi bagi masalah pendidikan di luar UNY. Salah satunya dengan diwujudkannya Klinik Pembelajaran UNY.

Rona bahagia terpancar dari wajahnya siang itu. Setiap goresan garis wajahnya mengisyaratkan harapan besarnya bagi lembaga yang ia pegang kemudinya saat ini. Meski telah lama di UNY, tak lantas membuatnya duduk berpangku tangan. Berbarengan dengan hadirnya Sutrisna Wibawa sebagai rektor baru, semangat kebaharuan pun ikut muncul. Kebaharuan tersebut salah satunya ia tuangkan dalam inovasi program-program yang tidak lain sesuai dengan visi misi UNY.

Ditemui tim Pewara Dinamika Kamis (04/05/2017), Sutrisna Wibawa menceritakan keinginannya untuk mewujudkan salah satu program anyar-nya, “Klinik Pembelajaran UNY”.

Klinik pempelajaran UNY menjadi salah satu program yang hendak dilaksanakan pada periode kepemimpinan Sutrisna Wibawa . Selain berperan dalam mengembangkan dan menjamin mutu pendidikan di dalam kampus, UNY  diharapkan juga bisa dekat dengan masyarakat lewat program tersebut.

Rencananya, Klinik Pembelajaran UNY akan dilaksanakan di bawah naungan  Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) “Kita punya Lembaga LPPMP. Nanti kita bentuk klinik di bawah LPPMP,” kataya.

LPPMP sebagai salah satu lembaga di bawah UNY bertanggungjawab dalam peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan. Sebelumnya LPPMP memiliki sepuluh pusat yaitu; (1) Pusat Penjaminan Mutu (Penjamu); (2) Pusat Pengembangan Kurikulum, Instruksional, dan Sumber Belajar (P2KIS); (3) Pusat Pengembangan Praktik Pengalaman Lapangan dan Praktirk Kerja Lapangan (P2PPL & PKL); (4) Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Tenaga Kependidikan dan Nonkependidikan (P4TKN); (5) Pusat Pengembangan Mata Kuliah Universiter (P2MKU); (6) Pusat Pengembangan Bahasa (PLB); (7) Pusat Pendidikan Karakter dan Pengembangan Kultur (P2KPK); (8) Pusat Pengembangan Karir (P2K); (9) Pusat Pengembangan Berkala Ilmiah (P2BI), DAN (10) Pusat Pengembangan Sekolah Laboratorium (P2SL).

Dari ke sepuluh pusat tersebut, P2SL menjadi pusat yang terjun langsung berhadapan dengan masyarakat. Program-programnya antara lain mengadakan lomba inovasi pembelajaran dan manajemen sekolah bagi guru dan kepala sekolah di DIY dan Jateng, pengembangan program unggulan di sekolah laboratorium, workshop penilaian dan rapor untuk sekolah laboratorium, pengembangan best practice  pembelajaran dan manajemen sekolah, magang guru TK dan SD, dan lain sebagainya. Beberapa program tersebut masih bersifat satu arah. Masyarakat masih terbatas pada program yang diadakan UNY.

Melalui Klinik Pembelajaran UNY, masyarakat dapat secara aktif melakukan konsultasi atau berbagi informasi mengenai pengembangan pembelajaran. Sasaran utamanya adalah para guru yang memiliki permasalahan terkait pembelajaran. Namun tidak menutup kemungkinan bagi siapapun untuk melakukan konsultasi. Utamanya para guru di wilayah Yogyakarta atau dari manapun.

Tujuannya selain untuk berkonsultasi juga sebagai sarana saling berbagi guna mengembangkan proses pendidikan. Pertanyaan konsultasi dapat berupa pertanyaan mengenai pola pembelajaran maupun materi sesuai standar kompetensi guru layaknya Standar Kompetensi Guru yang meliputi empat komponen yaitu (1) Kompetensi Pendagogik; (2) Kompetensi Kepribadian; (3) Kompetensi Sosial, dan (4) Kompetensi Profesional.

Di tataran praktis hal tersebut juga dapat dipandang sebagai bahan konsultasi. Misalnya tentang bagaimana menyiapkan bahan pembelajaran yang kreatif, bagaimana menangani anak gifted untuk mengembangkan potensinya. Sebaliknya bagaimana juga dengan anak yang kurang, bagaimana mengevaluasi pembelajaran, serta bagaimana membuat dan memanfaatkan media pendidikan. Di situlah peran universitas yang harus dirasa dekat oleh masyarakat. “Jadi kita ingin yang sifatnya inovasi kita dorong dan kembangkan bersama dengan stakeholder pendidikan lain,” jelasnya.

Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Namun demikian, konsultasi yang diharapkan bukan yang bersifat rutin. Sutrisna Wibawa menekankan inovasi baru agar dapat berdampingan dengan gaya mengajar. Ia juga tidak menginginkan konsultasi tersebut sebagai bentuk intervensi yang mengubah hal-hal baik yang sudah dilaksanakan sebelumnya. “Tapi ini bukan untuk konsultasi hal yang sifatnya rutin. Di sini kami menekankan inovasi baru  agar bisa berdampingan dengan gaya mengajar dan bukannya mengintervensi hal hal baik yang sudah terlaksana sebelumnya,” imbuhnya.

Harapan utamanya tidak lain adalah untuk meningkatkan pendidikan khususnya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Selain di bidang pendidikan, rasa dekat dengan masyarakat juga dapat dimunculkan di bidang keolahragaan.

Fakultas Ilmu Keolahragaan dalam hal ini memiliki peran yang strategis. Melalui penggunaan fasiltas yang ada diharapkan mampu meningkatkan prestasi di bidang olahraga DIY. Dosen-dosen dapat mengambil bagian untuk lebih aktif di organisasi-organisasi olahraga, sebagai pelatih dan lain sebagainya. Mereka juga dapat berperan melalui kegiatan berbagi informasi lewat sport science.

Sejatinya kegiatan tersebut sudah lama dilakukan UNY lewat kontribusi FIK dalam agenda persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON), SEA GAMES dan kegiatan lainnya. “Ini teman teman sudah lama berperan besar disitu. Dan kita akan dorong dan insentifkan lagi. Tentu pendekatannya adalah iptek olahraga. sport science. Bagaimana pengembangan keilmuan di fakultas olahraga bisa menyumbangkan peningkatan prestasi dan membanggakan kita semua,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here