Kala malam tiba dan gelap telah menyelimuti Yogya, salah satu sudut jendela di Wirobrajan kerap nampak masih bergelimang cahaya. Sang empu rumah, Miftahudin Nur Ihsan, memang memutuskan untuk terlelap lebih larut dari teman-temannya. Namun alih-alih menikmati malam-malam tanpa makna layaknya diperdendangkan Rhoma Irama dalam lagu begadang, tangannya justru masih menari dengan canting dan jumputan. Karena pada suatu hari di tahun 2015 itu, ia sedang mengubah kegemarannya pada batik menjadi kiprah akademik. Smart Batik Indonesia, kala itu berkiprah dalam hening.

Batik yang diciptakan Miftahudin sejak 2015 itu, bukanlah batik biasa. Kemristekdikti lewat program PKM Kewirausahaanmemberinya hibah riset untuk mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan dari Pendidikan Kimia FMIPA, untuk mengkolaborasikan pengetahuan lewat batik. Sehingga mulai dari molekul air, stray virus HIV/AIDS, hingga teori Atom Thompson, bisa terukir dengan manis layaknya mode fashion kekinian.

“Motif-motifnya memang tematik, misalnya kesehatan atau pendidikan. Kalau yang ini molekul air,” ucapnya seraya menunjuk salah satu batiknya yang berwarna biru sembari mengaku bahwa seluruh batiknya buatan tangan.

Gelar dan prestasi kemudian datang beriringan semenjak keheningan di Wirobrajan itu mulai menjelma menjadi sedikit ramai. Hiruk pikuk yang kemudian juga menggema secara daring, karena aktivitasnya yang juga menjamah toko daring. Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa tingkat provinsi DI Yogyakarta, Lomba Inovasi Bisnis Pemuda tingkat provinsi DI Yogyakarta, dan Penghargaan UKM Wow! dari Kementerian Koperasi dan UKM menghadirkan karyanya ke penghujung negeri.

Selepas lulus di tahun 2017, Smart Batik yang menghasilkan hingga 15 juta tiap bulannya itu mulai membuat dapur Miftahudin bersama beberapa karyawannya mengepul harum. Menjadikannya bukan sekedar kapal Pinisi yang berlabuh di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) untuk menggondol medali, tapi juga kebermanfaatan bagi sesama lewat kerja keras sebagai anak sungai, dengan teknologi menjadi airnya dan semangat berwirausaha sebagai muara. Sebuah semangat yang terus dikehendaki tumbuh dalam PKM, serta menjadi basis UNY dalam mempersiapkan tiap civitasnya menghadapi era disrupsi digital.

Jiwa Wirausaha, Jiwa Petarung

Semangat dan kemampuan wirausaha, bagi Kemristekdikti, tak hanya dipandang sebagai kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa sebagai upaya survival-nya di era disrupsi digital yang begitu keras. Jiwa tersebut, diungkapkan oleh Staf Ahli Menristekdikti bidang Infrastuktur Hari Purwanto, sebagai langkah pembebasan bagi negeri ini yang sudah terlalu sering dikalahkan dalam berbagai persaingan sebelumnya. Pengembangan perekonomian berbasis teknologi layaknya tersembahkan dalam revolusi industri 4.0 hari ini, kemudian menjadi vital untuk membuktikan bahwa Indonesia tak boleh lagi melewatkan peluang ini.

“Sebelumnya Pak Presiden meminta untuk mencetak 58 juta pelaku usaha kecil dan wirausahawan, karena Indonesia ini dari dulu sering ketinggalan, sekarang saatnya kita membalikkan keadaan. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) punya paket-paket untuk mendorong mahasiswa punya jiwa kewirausahaan,” ungkap Hari kepada Pewara Dinamika.

Dia juga menjelaskan, saat ini jumlah wirausahawan di Indonesia hanya 3,1 persen dari jumlah penduduk. Jumlah ini masih jauh jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Sebagai contoh, China memiliki 10 persen wirausahawan dan Singapura mencapai tujuh persen. Sedangkan Jepang sudah di level 11 persen dan Amerika Serikat sebesar 12 persen. Dari situlah Kemristekdikti kerap berupaya agar wirausaha dapat terus bermunculan dari kalangan generasi muda Indonesia untuk mampu menciptakan usaha kekinian berbasis sains dan teknologi.

Sentralitas pembangunan jiwa kewirausahaan kemudian bertumpu pada dua hal. Yang pertama, ialah memulai membangun jiwa kewirausahaan dimulai dari sisi kurikulum dengan mata kuliah kewirausahaan di hampir semua perguruan tinggi. Langkah keduanya, tak lain dilakukan dengan cara memberikan stimulan kepada mahasiswa untuk memulai berwirausaha.

PKM Kewirausahaan sebagai salah satu program Kemristekdikti dalam PKM 5 bidang, kemudian menjadi paket komplit bagi dua hal tersebut. Basis pengembangan keterampilan mahasiswa untuk mengolah keahliannya demi orientasi pada laba (profit), dipadukan dengan kompetisi antar sejawat dalam bentuk pemerolehan pendanaan dari Kemristekdikti dan peluang untuk lolos maupun menjuarai Pimnas. Kemampuan menghasilkan komoditas barang atau jasa guna menghasilkan karya kreatif, inovatif, dan membuka peluang usaha yang berguna bagi mahasiswa setelah menuntaskan studi, juga di era disrupsi digital sudah selayaknya makin berkembang selaras dengan kolaborasi teknologi. UKM hingga startup, kemudian mampu menjadi salah satu varian dalam pengembangan jiwa bisnis tersebut.

“Karena jika tidak ada pembaruan sama saja dengan pasar tradisional. Dan untuk menjadi wirausahawan yang tangguh perlu jiwa wirausaha, mempunyai daya juang yang tinggi dan inovatif. PKM memberikan dia stimulus sekaligus daya juang itu, dan kita juga harapkan untuk terus menghadirkan kebaruan. Misal startup, bisa masuk sini (PKM-K),” ungkap Didin Wahidin, Direktur Kemahasiswaan Kemristekdikti.

Untuk hal senada, PKM kemudian menjadi program prioritas banyak kampus. Tak terkecuali di UNY, dimana PKM tidak ditujukan semata-mata untuk mengejar prestige ataupun medali. Lebih dari itu, PKM dikelola sedemikian rupa untuk membangun iklim akademik yang baik di UNY sekaligus kemampuan mahasiswa untuk menghadapi tantangan konkrit di lapangan. Termasuk diantaranya ungkap Prof. Sumaryanto, Wakil Rektor III UNY, ialah tantangan untuk berwirausaha dan membuka lapangan kerja.

Keuntungan yang bisa diraih mahasiswa untuk berpengalaman dalam membuat penelitian hingga membanggakan orang tua, adalah secuil dari torehan tinta emas yang tak jauh dari genggaman asalkan ada kerja keras. Tim PKM Center dibawah koordinasi Kemahasiswaan UNY dan berkolaborasi dengan PKM Center di tiap fakultas, kemudian menjadi garda terdepan untuk membimbing para civitas yang terpanggil hatinya untuk hal-hal tersebut.

“Di kemahasiswaan, sukses prestasi itu ada dan salah satu pilarnya adalah tim PKM Center. Mereka siap membimbing, dan sangat sigap. Saya bahkan menyebut mereka TKD, Tentara Karepe Dewe. Relamakarya kesel-kesel, nyambut gawe untuk sukses prestasi,” ungkap Sumaryanto.

PKM Center

Dibentuk secara resmi sejak tahun 2012/2013, PKM Center seakan menjadi melting pot dimana maahasiswa, tenaga IT,dan staf kemahasiswaan dari seluruh fakultas serta rektorat bersua. Pembinaan PKM yang sistematis semenjak tingkat program studi, fakultas, universitas, termasuk UKM, kini dibina secara terstruktur lewat badan tersebut. Namun layak disebut tempat bersua dan seakan penuh nostalgik, karena awal PKM Center terintis belumlah seperti sekarang. Nurtanio Agus Purwanto, M.Pd sebagai Staf Ahli Wakil Rektor III mengungkapkan bahwa dulunya PKM Center sekedar beranggotakan perwakilan mahasiswa di tingkat fakultas dan pembina di tingkat universitas. Fungsinya, untuk saling berbagi informasi dan tukar kisah seputar PKM.

“Ada anak, punya hobi yang sama, kumpullah dulu itu saling sharing. Kumpul dengan kami juga yang di kemahasiswaan. Seiring waktu kita lihat potensinya. PKM Center harus punya peran lebih besar dari itu. 2012/2013, kita bentuk PKM Center resmi, dengan harapan gayeng-nya tetap, prestasinya maju terus,” ungkap Agus.

Sejak saat itu, PKM Center berkembang menjadi kelompok belajar mahasiswa pelaksana PKM dengan pendamping. Pendekatan berbasis saling asah, asih, dan asuh, kemudian menjadi karakter utama dalam beragam tantangan yang dihadapi mereka sepanjang proses pengusulan PKM hingga akhirnya didanai, lolos, bahkan juara dalam Pimnas.  Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian di tingkat universitas maupun masing-masing fakultas, juga jadi kandang dalam menyongsong perhelatan tersebut.

“Kelompok Studi Ilmiah MIPA Saintis misalnya di FMIPA, jagoan UNY kita punya ini,” ungkap Setiawan Pujiono MPd, Dosen Kimia dan salah satu pembimbing di PKM Center FMIPA UNY.

Agenda forum pembinaan dan pendampingan, penyiapan proposal sampai pelaksanaan, serta proses review internal, unggah, dan pelaporan, menjadikan PKM Center garda terdepan mewujudkan PKM sebagai budaya dan tradisi berprestasi para sivitas UNY. Sebuah kehendak yang melahirkan kerja tanpa henti dari segenap keluarga PKM Center. Karena walaupun pendanaan PKM terseleksi di bulan Maret dengan Pimnas digelar di pertengahan tahun, PKM Center tak pernah libur karena punya agenda bertajuk pra proposal.

Dalam proses Pra proposal, September hingga Oktober satu tahun sebelum Pimnas tahun terkait digelar, menjadi awal UNY dalam persiapan review internal dan pengumpulan proposal. Walaupun biasanya mahasiswa sudah mulai berdiskusi dan memikirkan rumusan PKM-nya bersama dosen pembimbing sejak bulan Juli dan Agustus. Menandai setahun penuh kerja UNY untuk mempersiapkan gelaran Pimnas tiap tahunnya.

Pengelolaan web khusus PKM oleh Kemahasiswaan UNY, membuat mahasiswa dapat mengunggah proposal mereka lebih dahulu ke universitas. Proses review dan kritik saran penyempurnaan, kemudian berlangsung seiring dengan ketatnya seleksi administrasi yang dijalankan dalam seleksi PKM di tingkat nasional.

“Jadi di UNY sudah kami seleksi, karena tiap kampus kluster 1 ada kuotanya maksimal 700 proposal. Dan nanti diatas (tingkat nasional), diseleksi lagi. Kalau formatnya tidak pas, bahkan langsung dicoret dan tidak dibaca. Itulah mengapa PKM Center dan penyempurnaan administrasi dengan cara review dan kritik saran, jadi penting,” ungkap Sukinah MPd, Dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNY yang juga juri pimnas, dalam menggambarkan ketatnya kompetisi dalam pengulsulan PKM dan keikutsertaan Pimnas.

“After” Pimnas

Kepekaan atas masalah sosial, menelurkan sumbangsih pemikiran dalam tulisan, serta menghadirkan keunikan dan solusi bagi masyarakat dalam tugas Tridharma, diungkap oleh Sukinah serta Pujiono menjadi beberapa benefit yang timbul dari keberadaan PKM Center dan keikutsertaan para mahasiswa di dalamnya serta di dalam kompetisi. 115 PKM didanai Kemristekdikti pada 2017, dengan 17 PKM lolos ke Pimnas Makassar dan lima medali digondolnya dari Makassar.

Namun perjuangan setahun penuh itu sudah selayaknya dipandang tak sebanding jika harus ditinggalkan begitu saja selepas gelaran perlombaan usai. 24 PKM Kewirausahaan yang tahun lalu didanai oleh Kemristekdikti menjadi bukti atas komitmen UNY untuk menunjukkan bahwa prestasi tak menjadi akhir kebermanfaatan. Plaza UNY sebagai laboratorium kewirausahaan, kemudian menjadi langkah inkubasi untuk menjaga hangatnya kontribusi universitas ini bagi sesama.

Lantai dua Plaza UNY yang nampak cukup sepi, menjadi saksi atas komitmen tersebut. Diresmikan lewat Soft Opening sebagai Gedung Laboratorium Kewirausahaan pada 13 Januari 2016, Prof. Rochmat Wahab dalam pidato pembukaannya menghendaki agar lantai dua plaza ini mampu menempa mahasiswa sebagai wirausahawan muda. Disamping Corporate Store Koperasi Mahasiswa (Core Kopma) UNY yang berlokasi di lantai dasar, food court dan fashion di lantai empat, serta perkantoran mitra UNY di lantai 3, lantai 2 yang terdiri atas 21 ruang dengan sekat-sekat proporsional memang didedikasikan khusus untuk mahasiswa. Entah bagi yang praktek mata kuliah kewirausahaan, fasilitasi PKM, termasuk inkubasi bagi mereka yang berniat untuk mengembangkan kemampuannya berwirausaha.

“Jadi praktek disitu gratis, dan mahasiswa yang setelah pembelajaran, seperti yang wirausahawan termasuk PKM, kita kenakan omzet sharing 7%. Harga per lantainya pun beda-beda. Namun intinya pemanfaatan aset ini untuk kegiatan akademik, praktek mahasiswa dan memfasilitasi industri inovatif adalah prioritas kami,” ungkap Dr. Endang Mulyani, Ketua Badan Pengelolaan dan Pengembangan Usaha (BPPU) UNY sembari menyatakan bahwa Plaza UNY pada 2017 lalu membukukan pendapatan sebesar 1,2 miliar rupiah.

Dari fasilitasi tersebut, Indobot sebagai Robot Pendidikan Multifungsi maupun Sepeda Listrik Astrobike yang basis pengoperasiannya Android, dapat memperoleh panggung untuk disajikan kepada masyarakat. Duet antara kewirausahaan dengan teknologi aplikasi ala startup yang dapat diidentifikasi sebagai aksi teknopreneurship, sekaligus beragam UMKM yang dirintis mahasiswa dan diberi ruang untuk berkembang dari Plaza UNY, dipandang Endang dapat menjadi langkah awal untuk sejenak menepikan anggapan bahwa berwirausaha membutuhkan proses panjang, sulit, kerap berhutang, serta kendala teknis dan nonteknis lainnya. Apalagi kini, berwirausaha dianggapnya semakin mudah karena teknologi digital telah menghadirkan online shop. Sehingga peningkatan kemampuan promosi sekaligus pangsa pasar yang lebih besar, menjadi berkah dan tantangan para mahasiswa dalam berdagang.

“Apalagi masih ada yang percaya diri kurang kalau berdagang. Itulah kenapa kita disini beri ruang bagi mahasiswa untuk berkreasi lalu menjual apa yang anda bisa. Termasuk menjual barang/jasa yang secara proyeksi di masa depan akan dibutuhkan konsumen. Itulah pentingnya basis startup dan teknologi,” ujar Endang.

Praktek yang ada di luar kelas layaknya Laboratorium Kewirausahaan serta kompetisi dalam Pimnas, kemudian menjadi lengkap dengan pembelajaran kewirausahaan di dalam kelas. Mata kuliah kewirausahaan, walaupun tidak termasuk dalam mata kuliah universitas (MKU), tetap dilangsungkan secara sporadis sebagai wujud atas diskresi para pemangku kebijakan di program studi. Program Studi Bimbingan dan Konseling di FIP UNY misalnya, telah menggelar mata kuliah ini sejak 2005-an  untuk menggenjot interalisasi nilai kewirausahaan yang ada di dalam iri tiap mahasiswa.

“Sekaligus mempersiapkan bekal mereka semua, karena jumlah wirausaha kita masih minim, dan lapangan kerja juga minim. Jadi kita turut berkontribusi dengan cara menghadirkan optimisme, sekaligus menihilkan contoh buruk seperti perklitihan karena wirausaha membentuk mental dan kesempatan hidup lebih baik bagi semua,” ungkap Fathur Rahman, M.Si, Dosen Bimbingan dan Konseling UNY.

Kedepan, konsep new literacyyang saat ini sedang diinisiasi Direktorat Jenderal Belmawa Kemristekdikti ini akan menjadi satu lagi sarana para sivitas untuk mendidik karakter kewirausaha yang berbasis teknologi. Basis literasi data, literasi manusia, literasi teknologi, serta penumbuhan iklim akademik berbasis kejujuran dan karakter sportifitas, diharapkan akan mewarnai kurikulum baru yang hendak diinisiasi oleh Kemristekdikti tersebut.

Walaupun hingga kini masih dalam proses pencarian format utamanya pada opsi apakah pemerintah hendak memberi strategi maupun peraturan baru yang mendukung penguasaan kemampuan teknologi yang diintegrasikan secara tersirat dalam setiap pembelajaran kuliah, maupun membentuk mata kuliah baru dengan jumlah SKS yang nantinya ditentukan. Dr. Wagiran, Staf Ahli Wakil Rektor I juga mengungapkan bahwa UNY siap untuk melaksanakan konsep tersebut jika nanti disahkan, ditengah ketat dan pesatnya era revolusi industri keempat yang membutuhkan warna baru kurikulum pada seluruh lapisan jenjang pendidikan dan masyarakat.

“Intinya kita mengapresiasi terkait dengan wawasan teknologi yang akan dikembangkan oleh Ditjen Belmawa. Itu tuntutan masyarakat dan tuntutan zaman, ya sudah kita harus siap-siap. Siap belajar, siap berkarya, dan siap jadi startup! Tidak siap, maka digilas,” pungkas Wagiran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here