Selamat berjumpa kembali pembaca Pewara Dinamika yang budiman. Padatnya aktivitas dan rutinitas menjelang akhir tahun tak lantas menyurutkan semangat kami untuk hadir dan menyapa pembaca sekalian. Merupakan kehormatan bagi tim redaksi untuk selalu bisa menyuguhkan tema-tema yang menarik setiap bulannya untuk dinikmati oleh sidang pembaca.
Setelah bulan Oktober hadir dengan tema pemuda karena kelindan erat dengan sejarah bangsa, bulan November juga punya ceritanya sendiri. Pahlawan menjadi tajuk. Mengambil momentum Pertempuran Surabaya, di mana para tentara dan milisi Indonesia yang pro kemerdekaan berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda, Indonesia punya hari resmi untuk menghormati para pahlawan yang berkorban bagi kemerdekaan. Namun, setelah kemerdekaan berhasil diraih, bukan berarti kita tak lagi punya orang yang bisa disebut pahlawan.
Sejatinya, pahlawan telah lama disandingkan dengan pekerjaan guru. Hanya saja, tanpa tanda jasa. Frasa ikonik ini pula yang digunakan oleh Sartono ketika menciptakan Hymne Guru. Guru, tanpa imbalan muluk-muluk, setiap harinya bertolak mendidik anak-anak, generasi penerus bangsa. Mereka berjuang bukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan mencerdaskan bangsa. Tak berlebihan bila pada edisi kali ini kami mengangkat guru sebagai tema. Bukan sembarang guru, melainkan para pemuda yang ikhlas mengabdikan diri di garda terluar negeri atas nama pendidikan—para pejuang SM-3T, Gurdasus, dan yang tengah digembleng dalam PPG.
Dari data temuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015, demografi guru di Indonesia menunjukkan data yang cukup mengejutkan. Kini, semakin banyak anak muda yang berprofesi jadi guru. Jumlah guru muda sekarang mengalahkan guru yang berusia senior. Penyejahteraan guru ditengarai menjadi salah satu sebab.
Melonjaknya minat anak muda menjadi pendidik, turut mendorong UNY sebagai LPTK untuk terus berbenah demi meningkatkan kualitas lulusannya. Namun, pendidikan di bangku kuliah saja belum cukup. Mahasiswa calon guru ini masih butuh digembleng supaya lebih memahami dunia pendidikan di lapangan, serta praktik penerapan ilmunya. Karena itulah program lanjutan seperti PPG atau SM-3T dirasa perlu.untuk menambah khazanah pengetahuan para calon pendidik. Nantinya, sebagai pendidik, mereka harus mampu menginduksi, serta menginspirasi tidak hanya murid yang mereka jumpai di wilayah pengabdian, tetapi juga masyarakat sekitar daerah penugasan.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, kami dari tim redaksi Pewara Dinamika mengucapkan selamat menyelami kehidupan para calon dan pahlawan tanpa tanda jasa di bulan pahlawan. Tentunya, tidak lupa dan bosan kami mengharapkan masukan, kritik, serta saran kepada sidang pembaca yang budiman, agar kualtas kami dalam memberikan laporan dan berita bisa semakin baik dan terus membaik. Selamat melahap suguhan warta dari kami. Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here