Home LAPORAN UTAMA Jurnal Pendidikan Karakter: Menghadirkan Revolusi Mental yang Tak Hanya Slogan

Jurnal Pendidikan Karakter: Menghadirkan Revolusi Mental yang Tak Hanya Slogan

135
0

Sebagai satu-satunya jurnal pendidikan karakter di negeri ini, Dr. Marzuki, Kepala Pusat Pendidikan Karakter UNY sekaligus sebagai chief editor jurnal, meyakini bahwa merintis dan memimpin jurnal ini bukanlah sekadar amanah yang ringan.

Jurnal ini lahir, dari buah pemikiran sekaligus wasiat Almarhum Prof. Sugeng Mardiyanto yang kala itu mendambakan kampus yang dipimpinnya kelak memiliki kajian pendidikan karakter yang komprehensif. Menjadikannya sebuah studi keilmuan yang tidak berbasis opini semata, tapi juga riset faktual tentang bagaimana mengejewantahkan pemupukan karakter tersebut, menjadi suatu hal yang konkret.

 

Sehingga ketika mulai terbitnya jurnal tersebut di tahun 2011, hingga kini dinahkodai Marzuki dan sedang bertarung dalam proses akreditasi nasional yang diselenggarakan Kemristekdikti, segala persiapan dan proses dikawalnya dengan kesungguhan hati. Ia mengemban amanah bukan hanya untuk mewujudkan wasiat sang mantan rektor, tapi juga turut serta menyukseskan Nawacita dan Revolusi Mental yang sedang digalakkan pemerintah.

 

“Dan ini rahasia umum. Akreditasi nasional suatu jurnal itu, jaminan mutu. Akan banyak yang hadir dan berminat untuk menulis di jurnal ini, dan kelak akan makin banyak pula yang turut berkontribusi untuk mengembangkan pendidikan karakter di negeri ini. Sehingga Insya allah kami akan terus berjuang, dan mohon doa restunya,” ungkap Marzuki mantap.

 

Jurnal Inklusif yang Membanggakan UNY

 

Sejak dirintis di tahun 2011 dan awalnya terbit tiga kali setahun, jurnal pendidikan karakter menekankan inklusifitas dalam proses penciptaan dan penerbitannya. Inklusifitas itu hadir dalam bidang keilmuan yang tak dibatasi oleh sekat-sekat fakultas maupun studi teknis. Semua orang dari segala latar belakang pendidikan dapat menulis berbasis riset dan bidang yang ditekuninya, selama bisa memetik nilai pendidikan karakter dari fenomena tersebut.

 

Kesempatan inklusifitas tersebut kemudian menghasilkan intisari sosok aktivis perkotaan dengan tajuk artikel jurnal berupa “Pengembangan moral Anak di Lokalisasi Pasar Kembang,” penikmat televisi yang menghayati “Nilai Pendidikan Karakter dalam Tayangan Mario Teguh Golden Ways,” hingga bagaimana meneladani “Teknik Scaffolding (menyambung rangka struktur vertikal dalam dunia konstruksi), “sebagai langkah internalisasi karakter percaya diri. Beberapa penulis dari Fakultas Ekologi Manusia IPB juga tak mau kalah, menuliskan seputar bagaimana iklim berpengaruh pada karakter remaja pedesaan, serta bagaimana negeri ini dapat meneladani kehidupan harmoni yang hadir disana.

 

Dari tulisan-tulisan yang hadir dengan kacamata masing-masing tersebutlah, muncul hikmah tentang bagaimana meneladani suatu hal yang dihadapinya bukan sebagai realita semata. Tapi juga bagaimana realita itu sebenarnya dibangun dari konstruksi sosial, serta bagaimana tiap insan mampu menjadi cendekia yang turut serta berkontribusi bagi pendidikan karakter negeri, dengan cara turut serta membentuk ruang bangun konstruksi sosial tersebut dengan buah pemikiran masing-masing.

 

“Itulah sebenarnya cita-cita jurnal ini. Menampung artikel dari seluruh negeri tentang pendidikan karakter. Selama ini ada jurnal nasionalisme. Ada jurnal religi. Tapi yang fokus solely and only ke pendidikan karakter, ya baru terbitan UNY ini,” ungkap Marzuki.

 

Jurnal Pendidikan Karakter, kemudian menjadi garda terdepan UNY dalam mewujudkan slogannya untuk Leading in Character Education. Berlandaskan semangat Lembaga Perguruan Tinggi Keguruan (LPTK), UNY kemudian berperan aktif di bawah Mendikbud Mohammad Nuh dan Anies Baswedan yang menggelorakan semangat pendidikan karakter.

 

Banyak bidang keilmuan, mulai dari teknik, ekonomi, bahasa, hingga filsafat, semuanya hadir dan menyatu di jurnal ini. Dengan masing-masing publikasi volume jurnal memuat 200 halaman yang secara umum memuat sembilan hingga sebelas artikel, Jurnal Pendidikan Karakter dikelola dengan seleksi dan proses review yang cukup komprehensif oleh para profesor dan juga akademisi muda UNY.

 

Berlandaskan optimisme dan kerja keras tersebut, Jurnal Pendidikan Karakter yakin untuk mendaftarkan diri untuk akreditasi oleh Kemristekdikti di tahun 2015. Masuk dalam kategori pendidikan, walau tak harus ditulis hanya oleh para pemikir di rumpun soshum semata. Namun sayang, proses pendaftaran itu tak menuai hasil yang diharapkan.

 

“Gagal waktu itu. Kebanyakan waktu itu pemikiran berbasis opinion-based. Belum research-based. Walaupun keduanya boleh, tapi secara penilaian, opini nilainya lebih rendah vis-a-vis riset. Sehingga nilai hasil akreditasi kita dibawah batas minimum kelolosan (70), dan gagal akreditasi,” ungkap Marzuki.

 

Tak Hanya Berhenti pada Jurnal

 

Agustus 2017, menjadi saksi Jurnal Pendidikan Karakter untuk sekali lagi menjajal proses akreditasi. UNY telah melengkapi segala persyaratan yang diminta Kemristekdikti, dan menguploadnya melewati Portal Arjuna yang disediakan kementerian sebagai pangkalan data kejurnalan.

 

“Jurnal Pendidikan Karakter ini yang paling terakhir kemarin upload-nya ke Arjuna. Telat banget. Semoga karena paling telat, hasilnya paling komplit,” ungkap Prof. Burhan Nurgiyantoro, Kepala Pusat Berkala Ilmiah UNY.

 

Namun, ditengah perkembangan zaman yang makin dinamis dan seruan Presiden Joko Widodo untuk menggelorakan pendidikan karakter berbasis revolusi mental lewat berbagai bidang, UNY menekankan bahwa pendidikan karakter tidak boleh berhenti hanya pada riset dan tumpukan jurnal semata. Marzuki mengungkapkan, bahwa menulis dan berkontribusi bagi masyarakat, selayaknya bagi kebanggan bagi civitas akademika karena menyebarkan ilmu pengetahuan serta kebaikan akan mendapatkan ganjaran terbaiknya dari masyarakat dan ridho serta berkah dari Yang Maha Kuasa.

 

Hal senada, juga diungkapkan Prof. Sutrisna Wibawa selaku rektor disela-sela Upacara Kemerdekaan ke-72. Diselenggarakan di Halaman Rektorat UNY, Sutrisna menekankan pentingnya UNY menggemakan semangat pendidikan karakter lewat berbagai media. Tak terkecuali media sosial dan ragam media kontemporer lainnya. “Ia seharusnya bisa digunakan untuk hal baik, layaknya menjalin pertemanan dan menyebarkan pengalaman positif. Saya menghimbau dan UNY selalu mengupayakan untuk mengukuhkan perannya dalam pendidikan karakter lewat media sosial ini.  Jangan sampai kita tebar kebencian, hujatan, hasutan, informasi hoax, serta paham radikal,” tegas Sutrisna.

 

Selain itu, Marzuki juga menekankan bahwa apa yang dimuat dalam jurnal pendidikan karakter ini juga kelak bisa dipublikasikan ke masyarakat luas lewat cara yang lebih inklusif lagi. Jurnal Pendidikan Karakter memang telah menjangkau banyak golongan secara inklusif, tapi alangkah baiknya jika jurnal ini bisa menjadi panduan serta rujukan, untuk publikasi yang lebih masif dan konkret. Layaknya yang dicontohkan Marzuki, tentang popularitas Vlog, Media Sosial, serta laman berita Tirto yang membawakan data riset dalam bentuk narasi.

 

“Inklusif juga kan semuanya? Bukan berarti jurnal ini harus berakhir karena perkembangan zaman, layaknya orang berfikir buat apa nulis kalau kita jadi selebrita internet dibayar puluhan juta. Tapi yang harus kita pahami, bahwa kita, termasuk UNY, punya tugas membangun negeri. Mengerjakan apa yang manfaat lillahi ta’ala,” pungkas Marzuki.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here