Home LAPORAN UTAMA Inovasi Pendidikan: Dari UNY untuk Indonesia

Inovasi Pendidikan: Dari UNY untuk Indonesia

147
0

Inovasi Pendidikan untuk Indonesia menjadi Tema Dies Natalis ke-55. Menandakan gelora tekad UNY untuk berinovasi di segala lini pendidikan. Semuanya untuk Indonesia!

Segenap civitas akademika UNY sangat menyadari bahwa hanya dengan inovasi kita akan berhasil menaklukkan era disrupsi. Serta selamat dalam iklim kompetisi yang semakin ketat.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Sutrisna Wibawa selaku Rektor UNY di hadapan wartawan media, Rabu (15/04), dalam launching tema dies natalis UNY ke-55. Alasan Sutrisna kala itu sederhana. Bahwa inovasi tak boleh dipaksa atau terpaksa oleh otoritas. Namun terbentuk dari lingkungan, lewat pilihan dan kesadaran untuk maju.

“Dan lingkungan dunia hari ini, iklimnya, sangat kompetitif dan disruptif. Itulah yang membuat UNY harus memilih, dan harus sadar untuk berinovasi,” ungkap Sutrisna tegas.

Isu tersebut kemudian melatari UNY untuk berinovasi. Artinya, melakukan pekerjaan dengan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien. Katakanlah itu lewat skala pekerjaan, cara baru, skala prioritas, sampai pengambilan keputusan partisipatif.

Semuanya akan dicurahkan di bidang Pendidikan. Sebagai bidang pokok UNY, yang memiliki mandat menjalankan Lembaga Perguruan Tinggi Kependidikan (LPTK). Dan segala asa tersebut tercurah, tak lain dan tak bukan, hanya untuk Indonesia.

“Itulah yang kita fokuskan dari tema dies kali ini. Selalu memperbarui komitmen inovasi dan terus meningkatkan kinerja untuk mewujudkan hari depan lebih baik,” sambung Sutrisna.

Agenda Sarat Inovasi

Dari niat melakukan inovasi, tema tersebut kemudian diterjemahkan menjadi logo dan agenda yang seluruhnya mencerminkan inovasi. Logo Dies Natalis ke-55 UNY misalnya, digambarkan dengan stilisasi bentuk pita 8 warna yang menyatu membentuk angka 55.

Pita warna-warni 8 warna yang meliuk dinamis, luwes membentuk angka 55 melambangkan sinergi yang solid antar fakultas di UNY yakni: FIP, FBS, FMIPA, FIS, FT, FIK, FE dan Program Pascasarjana yang terjalin bersatupadu beserta segenap civitas akademikanya untuk terus berjuang menjadikan Universitas Negeri Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi yang Dinamis dan Visioner, berkualitas, baik dalam skala Nasional maupun Internasional dan Menuju World Class University.

Sedangkan kaligrafi Jawa UNY menjadi ciri kampus yang berwawasan budaya juga sebagai Local Wisdom UNY yang berada di Kota Yogyakarta. Menggambarkan bahwa di usia yang ke-55 UNY menjadi kampus yang Smart dan Intelektual yang tetap konsisten, amanah sebagai Perguruan Tinggi yang terus mengembangkan Inovasi Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Bahasa, Seni, dan Olah Raga untuk mewujudkan lulusannya yang Unggul, Berkarakter, Berbudaya, Bernurani, Bermartabat, Bertakwa, dan Berwawasan Luas.

“Logo itu dengan segala nilainya, kemudian tak hanya mencerminkan harapan. Tapi juga  tanggung jawab moral dan akademik bagi UNY. UNY harus bisa mencapai itu, di usianya ke-55. Lembaganya UKI (Unggul, Kreatif, dan Inovatif), Civitasnya TMC (Taqwa, Mandiri, Cendekia),” imbuh Dr. Sugiharsono selaku Dekan FE UNY.

Sugiharsono selaku pimpinan Fakultas yang tahun ini menjadi panitia pusat Dies Natalis menambahkan bahwa, nilai-nilai itu digodog menjadi empat tujuan kegiatan dies: refleksi, sosialisasi, pengabdian masyarakat, dan promosi. Semuanya dalam kerangka UKI dan TMC, dengan tujuan inovasi.

Dari situlah, agenda kegiatan Dies dapat diejawantahkan dalam delapan kategori.

Kategori pertama, yaitu Kegiatan Akademik, bervariasi mulai Museum Goes to Public hingga Seminar Internasional ICGC dan YICEMAP. Dalam Seminar Internasional, dipublikasikan proseding yang diharapkan bisa terindeks internasional. Sedangkan di Museum Goes to Public, acara dipusatkan di Museum Pendidikan UNY. Membuka dan mempromosikan museum agar lebih banyak lagi pengunjung dan masyarakat Jogja yang tahu.

“Termasuk, Seminar Nasional DPP IKA UNY. Alhamdulillah Bapak Wakil Presiden, Bapak Menristekdikti, beserta jajaran eselon berkenan rawuh untuk memberi masukan inovasi pendidikan. Forkopimda Provinsi dan Kabupaten Sleman juga rawuh. Inilah contoh agenda Dies juga mengedepankan nilai pendidikan,” ungkap Dr. Siswanto, Ketua Panitia Dies Natalis.

Ragam Agenda Dies

Kategori kedua, kegiatan kesehatan, berisi Pemeriksanaan Kesehatan General Check Up. Agenda ini berkolaborasi dengan kategori ketiga dan keempat yaitu kegiatan sosial dan olahraga. Dengan ragam acara mulai dari Aksi Donor Darah, Bakti Sosial, hingga Senam Bersama dan Gelar Produk Kewirausahaan.

“Sehat dan olahraga juga tak boleh ketinggalan. Men sana in corpore sano, dan kalau badan sehat juga makin cepat berinovasi,” imbuh Siswanto.

Kegiatan mahasiswa dan kegiatan lain-lain juga tak kalah semarak. Kategori kelima dan keenam ini berisi UNY Science Fair, lomba Majelis Tilawah Al Qur’an, sampai Lomba Poster dan Vlog yang memperoleh hadiah langsung berupa Uang Kuliah Tambahan (UKT) dari Rektor UNY.

Kegiatan seni sebagai kategori selanjutnya, kemudian menjadi salah satu titik puncak semaraknya agenda dies. Berisi Konser Musik Maliq & D’Essentials yang hanya bisa diikuti mahasiswa dengan IPK tinggi, sampai Festival Jathilan yang berhasil memecahkan rekor MURI peserta Jathilan terbanyak.

“Tak kalah juga di Kegiatan Kesenian dan Kegiatan Lain-Lain, ada lomba memasak. Saya waktu itu ikut masak, nggak kalah sama ibu-ibu (Dharma Wanita UNY),” kenang Sutrisna sembari tertawa.

Di akhir rangkaian agenda Dies, pada Selasa (21/05), digelar Upacara Dies Natalis yang menggawangi seluruh rangkaian kegiatan. Selain agenda sakral berupa pidato dies dan pembagian penghargaan, ada juga kolaborasi orkestra dan gamelan. Tak ketinggalan, peluncuran buku dies seputar Inovasi Pendidikan dan Praksis Pendidikan Pancasila.

“Dengan inovasi itu dibukukan, dipublikasikan, maka ia abadi dan bisa bermanfaat luas. Inovasi tak hanya berhenti tanggal 21 besok, tapi bisa dibaca dan dipraktikkan sepanjang masa,” pungkas Sutrisna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here