1. Thomson Reuters

Indeks jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Thomson Reuters. Bertaraf internasional dan dinilai berdasarkan impact factor berbasis sitasi dan kebermanfaatan artikel dalam jurnal ilmiah terkait bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

 

Walaupun tidak menyediakan pemeringkatan bagi universitas, jurnal terindeks Thomson Reuters dianggap paling prestise.

 

Insentif: 20 Juta

 

  1. Scopus

Pangkalan data pustaka yang mengindeks jurnal ilmiah, buku, makalah konferensi (prosiding), serta paten. Dalam bidang jurnal, Scopus menyimpan 22.000 judul jurnal dengan berbagai bidang keilmuan, layaknya pendidikan, rekayasa elektronika, biosains tropika, dan lain-lain.

 

Basis penilaian: repurtasi akademik (40%), repurtasi daya saing lulusan (10%), rasio dosen mahasiswa (20%), jumlah sitasi (20%), dampak penelitian pada masyarakat (5%), jumlah tendik asing (5%), jumlah mahasiswa asing (5%)

 

Jurnal maupun prosiding dalam Scopus kemudian dibagi menjadi empat kuartil, berdasarkan repurtasinya:

 

Q1, 25% jurnal yang terindeks Scopus

Insentif: 18 Juta

 

Q2, 25-50% jurnal yang terindeks Scopus

Insentif: 16 Juta

 

Q3, 50-75% jurnal yang terindeks Scopus

Insentif: 14 Juta

 

Q4, 75-100% jurnal yang terindeks Scopus

Insentif: 12 Juta.

 

  1. Directory of Open Access Journals (DOAJ)

Dipandang Kemristekdikti sebagai jurnal internasional berepurtasi sedang. Bila jurnal terindeks Scopus dan Thomson Reuters dikomersilkan, DOAJ menyediakan jurnal secara gratis.

 

Insentif: 500 ribu.

 

  1. Jurnal berakreditasi nasional (terindeks Sinta) atau belum terakreditasi

Indeks Sinta (Science and Technology Index) yang dirintis Kemristekdikti, menyediakan daftar jurnal dalam negeri.

 

Insentif: 500 ribu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here