Layaknya bayi yang baru lahir, para mahasiswa yang mulai berkenalan dengan dunia penelitian diibaratkan Prof. Sumaryanto, Wakil Rektor III UNY, laksana sedang belajar terlentang, duduk, dan merangkak. Walaupun apa yang senantiasa dikejar universitas dalam mengejarworld class university(WCU) adalah publikasi artikel jurnal internasional, yang diibaratkannya laksana orang yang sudah bisa berdiri dan sedang dipacu lari maraton, proses merangkak yang dapat dilakukan para mahasiswa dengan penelitian-penelitian sederhana namun bermanfaat luas lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dapat menjadi sarana yang baik untuk mengembangkan diri.

Karena jika mereka bisa menyabet ilmu yang bermanfaat serta pengalaman meneliti yang paripurna, maka melakukan hilirisasi hasil riset melalui publikasi internasional tentunya takkan sesulit jika mereka merintisnya dari nol. Sebagai komitmen atas hal tersebut, UNY sejak tahun lalu juga telah membuka ruang selebar-lebarnya bagi dosen, mahasiswa, maupun gabungan dosen dan mahasiswa untuk menghilirisasi apapun riset yang dimilikinya menjadi artikel jurnal melalui penyediaan insentif sekaligus pembinaan.

“Apalagi ini seperti lomba merangkak, ada yang mengajari, ada yang menyemangati, ada hadiahnya kalau menang, dan ada bimbingan serta kasih sayang dari kami segenap pengajar untuk mereka yang hendak mengikuti PKM. Intinya sebagai awal membangkitkan semangat meneliti mahasiswa, sayang kalau tidak diikuti!,” ungkap Sumaryanto sembari menegaskan bahwa pengusulan PKM maupun keikutsertaan UNY dalam kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas), sebagai salah satu prioritas di bidang kemahasiswaan untuk terus meningkatkan prestasi yang sudah ada.

Menyemai Budaya Penelitian

Sebagai program tahunan yang secara rutin digelar oleh Kemristekdikti sejak tahun 1997, Pimnas sebagai kompetisi yang mengadu hasil riset dalam PKM, dikelompokkan menjadi dua kategori besar: PKM Berbasis Artikel Ilmiah, yang terdiri atas PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT), serta kategori PKM Lima Bidang, yang terdiri atas PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-M), PKM- Penerapan Teknologi (PKM-T), dan PKM-Karsa Cipta (PKM-KC).

PKM Lima Bidang berfokus pada bagaimana mahasiswa melakukan riset maupun menyelenggarakan kegitan sesuai kategori masing-masing, agar bisa menghadirkan solusi atas suatu problematika dalam tataran keilmuan maupun permasalahan di masyarakat. Dari situ, kombinasi atas karakter Tridharma dapat terasah sejak dini, dengan pelaksanaan program tersebut didanai oleh Dikti. Dan sejauh ini, hal tersebut dibuktikan dengan prestasi UNY yang merata dan bervariasi layaknya di bidang kewirausahaan, penelitian, teknologi.Termasuk pada 2017 lalu, berhasil menyabet dua emas, satu perunggu, dan tiga juara favorit sehingga menempatkan UNY sebagai peringkat ke-10  dalam ajang Pimnas ke-30 di Makassar.

“(PKM) ada yang didanai 5 juta, didanai 10 juta, ini kan lumayan untuk mahasiswa mengasah diri untuk meneliti dan menyikapi tantangan yang ada di masyarakat, sekaligus mengaplikasikan ilmu serta manfaat dengan didanai oleh Dikti,” ungkap Sukinah, Dosen PLB FIP UNY yang juga juri PIMNAS.

Khusus untuk PKM Artikel Ilmiah, karya tulis yang diproduksi oleh para mahasiswa berbasis pemikiran dan hasil-hasil kegiatan ilmiah yang telah dilakukan ke dalam bentuk sebuah artikel ilmiah sesuai kriteria standar penulisan jurnal ilmiah, dapat memperoleh tempat di Jurnal prosiding yang diterbitkan oleh Kemristekdikti.

Perbedaan dari kedua jenis tulisan yang ada dalam kategori tersebut adalah, jika PKM-AI lebih menekankan pada research-based article, PKM-GT memberikan ruang bagi opinion-based article yang ditelurkan mahasiswa untuk mendapatkan ruang. Insentif 3 juta rupiah telah menanti mahasiswa untuk setiap artiel yang dipublikasikannya. Hal inilah yang dipandang oleh Sumaryanto dapat berkontribusi positif dalam mengasah budaya meneliti dan menulis dalam diri mahasiswa.

Karena jika dalam semester awal saja para mahasiswa sudah mampu menulis sekaligus meneliti maupun beradu gagasan di prosiding Kemristekdikti, maka jurnal internasional sebenarnya takkan jauh di masa depan mereka. Asalkan, ungkap Sumaryanto, para mahasiswa senantiasa terus merunduk layaknya padi, serta tak kenal lelah untuk belajar di tengah dunia keilmuan yang kini berkembang begitu pesat.

“Intinya seperti padi, semakin tua, semakin berisi, semakin menunduk. Dan untuk yang PKM 5 Bidang juga bisa dihilirisasi maupun dikembangkan apabila sesuai bidang keilmuannya masing-masing, tidak harus sama persis tapi bisa berkaitan. Intinya, ini baik dan langkah awal untuk menyemai budaya penelitian,” ungkap Sumaryanto.

Semua Harus Menulis

Dalam tahun 2017, jumlah artikel jurnal internasional yang dipublikasikan oleh UNY telah meningkat sebesar 300%. Motornya selama ini adalah para dosen, yang selama ini telah memiliki banyak riset dan gagasan yang belum sempat dipublikasikan. Dengan kebijakan insentif dan pengurangan beban SKS menjadi maksimal 16 SKS tiap semesternya, hasil riset yang selama ini kebanyakan hanya menjadi catatan penelitian ataupun makalah presentasi di seminar-seminar dapat bertransformasi menjadi artikel jurnal internasional. Nama UNY pun kian harum dengan tuntasnya empat batch pembinaan artikel jurnal internasional yang digelar UNY tiap triwulan.

“Hal itu kemudian didukung dengan upaya UNY untuk menggelar seminar internasional on the spot di kampus. Ada banyak seminar kita gelar di UNY tahun lalu, laris manis dan berkualitas top. Sehingga tahun ini kita tingkatkan lagi, sembari memprioritaskan civitas UNY untuk turut serta sekaligus masuk dalam prosiding internasional terindeks,” ungkap Prof. Margana, Wakil Rektor I UNY.

Para mahasiswa S3, mulai akhir tahun 2017, bahkan juga diwajibkan untuk menulis setidak-tidaknya satu artikel jurnal internasional sebagai syarat kelulusan. Sedangkan mahasiswa S2, dianjurkan dan direkomendasikan untuk mengikuti langkah tersebut. Para guru besar pun juga dituntut oleh Kemristekdikti untuk lebih giat menulis, karena ada peninjauan ulang gelar guru besar yang diselenggarakan rutin.

Dari situ, Tahun 2018 diharapkan dapat menjadi pembuktian kontribusi mahasiswa dalam mewujudkan misi besar UNY untuk menggapai pemeringkatan internasional, sekaligus menunjukkan bahwa budaya penelitian yang disebut Prof Suyanto, Ketua IKA UNY, sebagai upaya Publish or Perish (Publikasikan atau Hilang), dapat diwujudkan dalam tataran praktis.

“Jadi batch(penulis artikel jurnal internasional) ini isinya bukan hanya dosen-dosen dan guru besar. Tapi juga mahasiswa S3 dan S2. Adajuga mahasiswa S1 yang sudah joint dengan dosen menulis artikel, atau memang suka-suka atas motivasi sendiri menulis paper berkelas.Jadi memang ada tuntutan kita berkontribusi aktif, dan kita fasilitasi secara komplit dan konstruktif. Kami terus berharap budaya menulis artikel jurnal berkembang di seluruh civitas, tak terkecuali anak S1,” pungkas Burhan Nurgiyantoro, Kepala Pusat Berkala Ilmiah UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here