Tangannya seakan menari ketika melemparkan Petruk, Gareng, dan Bagong di balik kelir. Membuat para lakon terbang tinggi menghayati perannya dalam Pandhawa Darmasraya. Dengan suara menggelegar, Petruk yang baru saja lolos dari peristiwa Bale Sigala-gala kemudian menantang bertarung Prabu Baka, raksasa penguasa negeri Era Cakra yang gemar membunuh dan memangsa rakyatnya.

“Opo kue isih pingin iso mangan gudeg e yu djum? Minggato! (Apa kamu masih ingin bisa makan Gudeg Yu Djum? Pergilah!),” tantangnya yang kemudian diakhiri dengan duel seru antar lakon. Lengkap dengan gelak tawa hadirin pagelaran wayang dalam rangka dies natalis UNY ke-53, yang bertempat di Halaman Rektorat UNY pada Sabtu (13/05/2017) malam. Dan gelak tawa lainnya yang tak bisa didengar karena berada dibalik layar gadget, ditengah acara yang juga disiarkan lewat live streaming maupun radio tersebut.

Sekilas, tak ada yang berbeda dari Dimas Hazel Abi Rama Arrafi dengan dalang lain pada umumnya. Abi memahami apa yang dimainkannya, dan menampilkannya dengan ciamik penuh canda. Sehingga mengaburkan persepsi penonton bahwa dalang yang bersuara dalam dan serak menggelegar tersebut, sebenarnya sosok lelaki cilik yang baru berusia 13 tahun.

 

Tak Lagi Menangis Jika Sudah Pegang Wayang

Dalang cilik berbakat yang lahir di Tulungagung, 13 September 2013 tersebut telah akrab dengan tokoh wayang sejak masih belum bisa berjalan. Ketika umurnya satu tahun, wayang selalu menjadi cara simbah dan kedua orang tuanya untuk menenangkan Abi. Namun jika ditanya alasannya, tiada seorangpun yang tahu kenapa tangisan Abi yang begitu keras dan panjang, bisa dengan sekejap dihentikan ketika wayang ada dalam genggamannya.

Putra dari pasangan Djoko Santosa dan Yuliana tersebut kemudian tumbuh akrab dengan wayang dan kesusateraan Jawa. Walau ayah dan ibunya tidak bisa bermain wayang, Abi memang masih memiliki hubungan darah dengan dhalang Ki Minto, dalang legendaris dari Nganjuk. Dari situlah ia menduga bakatnya muncul. Bakat yang membuatnya menggandrungi jaranan dan lantunan gendhing ketika duduk di PAUD, hingga dengan sendirinya hafal nama-nama wayang ketika usianya empat tahun dan duduk di TK.

“Jadi sudah hapal. Dan pernah suatu ketika nangis minta dibelikan wayang Narada, tapi malah dibohongi, diberi wayang Togog. Saya tahu kalau dibohongi dan itu bukan wayang Narada. Tambah kencang lah tangisan saya,” kenangnya sembari tertawa.

Mengetahui bakatnya tersebut, kedua orang tuanya mendukung Abi untuk berkelana ke berbagai sanggar seni. Ngangsu kawruh ilmu perdhalangan. Mulai dari sanggar Budi Luhur di Sumbergempol, Tulungagung, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Tulungagung), hingga berguru kepada Ki Nyata Carita, guru dalang kondang asal Kraton Mangkunegara.

“Saya juga pernah dolan ke dalemipun Ki Agus Brekele di Desa Blimbing, Tulungagung. Lagi ada arisan para dhalang, saya ikut saja sambil mendengarkan,” ungkapnya.

Keinginannya belajar dunia pewayangan tersebut bahkan sempat membuatnya pindah sekolah. Abi yang pada mulanya bersekolah di SDN 3 Ngunut sempat merengek pada orang tuanya untuk pindah sekolah ke SDN 1 Ngunut. Hanya karena alasan sekolah tersebut memiliki ekstra kulikuler Karawitan.

“Ya namanya juga anak kecil. Tapi pihak sekolah bahkan sangat mendukung. Tidak mempermasalahkan pindah dan meminta saya terus kejar keinginan jadi dalang,” ungkapnya yang sudah teguh sejak kecil ingin menjadi dalang kondhang. Mengidolakan Ki Anom Suroto, Ki Enthus Susmono, dan Ki Sun Gondrong untuk kemudian hari bisa mengikuti jejak mereka.

Dari tekad belajarnya yang kuat, Abi bisa lulus ujian dalang yang digelar Pepadi dengan mudah, di umurnya yang baru menginjak 7 tahun. Saat itu, ia satu-satunya peserta ujian yang masih duduk di sekolah dasar. Dengan sembilan peserta lain yang berasal dari penjuru Jawa berusia remaja bahkan dewasa.

“Ujiannya waktu itu ndhalang keroyokan bebarengan. Lakon Karno Tandhing,” kenangnya.

 

Pentas di Hajatan Sunat Ketika Sendirinya Belum Sunat

Ilmu demi ilmu yang didapatkannya tersebut kemudian ditampilkannya dalam berbagai pagelaran. Peringatan satu sura di desa kelahirannya, Buntaran, Tulungagung, menjadi saksi bagaimana sang dalang cilik tanpa keraguan beraksi untuk pertama kalinya. Pengalaman tersebut pula yang mengawali puluhan pagelaran di kemudian hari.  Baik dalam Peringatan Hari Bela Negara (PHBN), Pernikahan, Ulang Tahun, hingga Sunatan.

“Dari PHBN tersebut Pak Suharno minangka Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung jadi memperhatikan dan mengenal saya,” kenangnya sembari mengapresiasi kehadiran sang Kadisdik dalam pagelarannya di UNY.

Tampil di hajatan sunatan, menjadi salah satu pagelaran yang diingatnya. Acara 1 Juli 2012 itu menjadi terkenang karena Abi menerima job untuk tampil dalam hajatan sunatan, ketika ia sendiri masih belum sunat. Namun ia hanya memendam cerita itu sendiri bersama keluarganya. Dan tanpa grogi sama sekali menghibur dalam pementasan, serta menyampaikan pesan moril di setiap lakon yang ditampilkannya.

“Tetap profesional walau jika ingat itu cukup lucu juga,” kenangnya.

Pernah sekali waktu wajahnya dipertontonkan pada baliho raksasa. Kala itu, ia menjadi dalang dalam pagelaran yang disponsori yayasan budaya salah satu perusahaan rokok raksasa. Pementasan tersebut menurutnya juga menjadi salah satu yang paling dikenang. Karena, ia tampil dengan Haji Fuad Syaiful Anam, seorang ustad termasyhur di seputaran Tulungagung, untuk berkolaborasi mengadakan pengajian multimedia (pengajian online).

Abi juga kerap tampil dalam ragam perlombaan. Sebelum menjuarai lomba dalang cilik dalam rangka dies natalis UNY ke-53, Abi juga pernah meraih juara dua lomba dalang tingkat Provinsi Jawa Timur dan mewakili ke tingkat nasional. Pada waktu itu, ia mewakili ke tingkat nasional menggantikan sang juara pertama, karena yang bersangkutan terkena aturan batas jenjang pendidikan.

“Jadi syarate masih duduk di bangku SD. Nah yang juara 1, waktu lomba tingkat nasional digelar, sudah SMP. Jadilah saya menggantikan,” kenangnya.

Dari hasil pentas dan perlombaan, Abi biasa mendapat uang saku maupun hadiah yang langsung ditabungnya. Setelah terkumpul banyak, ia biasa menggunakan uang tersebut untuk membeli koleksi wayang yang lebih lengkap maupun blangkon baru. Termasuk, menjadi bekal untuk terus ngangsu kawruh guna meraih mimpi menjadi dalang kondang.

Sebagai rektor UNY dan guru besar filsafat Jawa, Prof. Sutrisna Wibawa berharap Abi bisa jadi salah satu bukti bahwa budaya Jawa akan senantiasa lestari. Selama, ada kemauan dari masyarakat untuk nguri-nguri kebudayaan dan falsafah lokalnya yang begitu kaya.

“Karena dari wayang itu sebenarnya selain tontonan, berupa hiburan, ia juga tuntunan. Ada pendidikan dan nilai karakter yang bisa dimasyarakatkan lewat wayang. Yang putih, yang baik, bisa jadi suri tauladan. Sedangkan yang jahat, hendaknya tidak dicontoh,” pungkas Sutrisna.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here