Hadirkan Sekolah Vokasi Kelas Wahid di Wates

 

Mahasiswa vokasi itu tak lagi boleh duduk terlalu lama di dalam kelas. Berpraktik ria, melek teknologi, serta menempa diri menjadi luwes dan terampil, harus jadi prioritas. Sembari menerapkan ilmunya dalam tataran praktis, sembari mencoba secara langsung apa yang telah didengar dan dipelajarinya. Bukan sekadar membaca dan menghapal, lalu menuliskannya kembali dalam publikasi atau ujian akhir, demi nilai dalam transkrip.

Disinilah bagi Prof. Sutrisna Wibawa selaku Rektor, letak perbedaan vokasi UNY dibanding ketika program studi diploma masih terikat Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi. Keduanya lahir dari rahim yang berbeda. Pendidikan strata sarjana berbasis pendidikan akademik yang filosofis-teoritik, sedangkan pendidikan vokasi dilahirkan sebagai pendidikan keterampilan berbasis praktikal. Sebagai putra-putri yang dilahirkan dunia pendidikan tinggi, keduanya juga diharapkan tumbuh dengan jenis kelamin yang berbeda: antara paperdan publikasi, dengan karya nyata.

Permenristekdikti 51/2018 Pasal 4 ayat 4 tentang Sekolah Vokasi, telah mengatur bahwa program studi diploma ditempatkan di wilayah yang berbeda dengan jenjang sarjana. UNY berkomitmen melaksanakan aturan ini sekaligus mengembangkan pendidikan vokasi yang unggul, lewat terus meningkat fasilitas di Kampus Terpadu Wates

 

Sejarah dan Masa Depan

Gedung UNY Kampus Wates yang dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar saat ini adalah bekas gedung SGO (Sekolah Guru Olahraga). SGO dibekukan oleh pemerintah sejak tahun 1992. Fasilitasnya dilimpahkan kepada UNY. Namun layaknya diungkapkan Bambang Saptono, M.Si. selaku Ketua Pengelola UNY Kampus Wates, ada satu syarat yang harus dilakukan UNY. Yaitu  amanah untuk melanjutkan tugas-tugas pencerdasan kehidupan bangsa di sana.

Awal penggunaan gedung ini dimulai bulan Agustus 2000 dengan jumlah Fakultas 3 yakni Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Fakultas Ilmu Keolahraaan yang memiliki 11 prodi Diploma 3. Yakni program studi Fakultas Teknik yaitu Teknik Mesin, Teknik Otomotif, Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Teknik Sipil, Tata Boga, Tata Busana, serta Tata Rias dan Kecantikan (FT). Dan program studi dari Fakultas Ekonomi diantaranya Sekretari (Administrasi Perkantoran), Akuntansi, dan Manajemen Pemasaran.

Penempatan program studi inilah yang dilanjutkan UNY. Pada tahun ajaran 2019/2020 dimana UNY hanya membuka jenjang D4 untuk tingkat diploma, sebelas prodi dengan nomenklatur yang sama dilaksanakan sepenuhnya di Wates. Sedangkan beberapa jenjang sarjana yang sempat menempati kampus Wates, kini dipusatkan di Karangmalang.

Untuk mendukung pembelajaran tersebut, UNY terus berkomitmen dan mengerahkan sumber dayanya bagi pengembangan kampus Wates. Pada Senin (05/11), UNY meresmikan Digital Library di Kampus Wates dengan seratus lebih unit komputer berspesifikasi tinggi. Laboratorium Komputer dan Laboratorium Internet juga dapat diakses mahasiswa.

“Dalam komputer tersebut tersedia akses atas jurnal yang telah dilanggan oleh Perpustakaan UNY. Sekaligus bisa dipakai mahasiswa untuk browsing dan belajar,” ungkap Dr. Zamtinah selaku Kepala UPT Perpustakaan UNY.

 

Kembangkan Fasilitas Kampus dan Ekonomi Kulonprogo

Fasilitas lain yang dimiliki Kampus Wates diantaranya Laboratorium Akuntansi Manual, Laboratorium Pasar Modal, Laboratorium Bank Syariah, Laboratorium Sekretari, serta kolam renang berstandar internasional. Asrama mahasiswa juga disediakan disana dengan gedung megah tingkat empat. Tarifnya terjangkau, cukup 1.750.000 per tahun.

“Letak asrama yang dalam satu kompleks kampus membuat mahasiswa sangat dimudahkan,” imbuh Bambang.

Kedepan, UNY berkomitmen terus mengembangkan fasilitas kampus. Gedung, bengkel, dan laboratorium empat lantai yang akan mengakomodasi praktikum Fakultas Teknik akan tuntas dibangun pada tahun 2020. Tujuannya agar pendidikan vokasi makin terpadu, terintegrasi, dan terfasilitasi secara optimal di Wates.

Pengembangan vokasi di Kulonprogo, imbuh Sutrisna, juga bermanfaat menjadi pengembangan perekonomian daerah. Seiring dengan tuntasnya pembangunan bandara internasional baru Kulonprogo dan dicanangkannya Wates sebagai daerah industri sekaligus pengembangan ekonomi baru. Mantan Bupati Kulonprogo yang kini menjadi Kepala BKKBN, dr Hasto Wardoyo, sepakat dengan hal ini. Terus dikembangkannya program diploma di Wates dapat menimbulkan multiplier effect bagi ekonomi daerah.

“Salah satu contohnya, seperti kolam renang milik UNY, sangat memberi manfaat dan sarana olahraga lain sangat memberi kontribusi. Dulu tidak pernah ada lomba renang tingkat nasional, sekarang ada. Mahasiswa UNY kos, makan, dan bela-beli produk Kulonprogo, maka masyarakat ikut makmur. Terbukti UNY memberi dampak positif bagi masyarakat dan banyak multiplier effectnya,” pungkas Hasto saat pembahasan pengembangan UNY kampus Wates, Rabu (21/06) di Ruang Menoreh Kantor Pemkab Kulonprogo.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here