28 Seminar yang dihelat UNY tahun ini bukannya tanpa maksud. Pengembangan prestasi sekaligus terus mendorong peningkatan artikel civitas yang terindeks Scopus, menjadi asa di baliknya.

Apalah arti sebuah nama? Tanya Shakespeare, sembari meyakini bahwa bunga mawar tetaplah berbau wangi walaupun tak dinamai demikian. Layaknya dikisahkan Basikin yang juga Dosen di Pendidikan Bahasa Inggris dan Sekretaris Eksekutif UNY, jika Shakespeare masih hidup hari ini, kata-kata bijak miliknya tersebut bisa dijadikan pertanyaan yang menggelitik para civitas: Apa yang dicari-cari UNY dalam target jurnal terindeks Scopus? Toh sebuah ungkapan atas pemikiran, ide, dan gagasan, jika merunut pada logika demikian, juga tetaplah suatu hal yang mulia. Apapun mediumnya, walau tak dimuat dalam jurnal yang terindeks Scopus.

Basikin kemudian menekankan bahwa alasan UNY menggiatkan Scopus adalah tentang kebermanfaatan dan kemaslahatan bagi sesama. Sebuah pemikiran yang dituliskan dalam jurnal internasional menurutnya, terlebih lagi yang terindeks Scopus, akan membuat pemikiran tersebut menjadi diskursus serta diskusi kelompok epistemik yang ekspertis di bidangnya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Prof Margana selaku Wakil Rektor I UNY kemudian menekankan bahwa Ilmu pengetahuan akan terus berkembang dari impact factor yang ditimbulkan oleh artikel-artikel ilmiah tersebut. Dari bagaimana sebuah ide dijawab, disokong, bahkan dikritisi, dengan ide dari pemikir lain yang kemudian saling memperbaiki dan melengkapi.

“Sehingga dari situlah, apalagi Dikti juga mengejar Scopus, kita sebagai kelompok akademik tidak boleh alpa untuk ikut serta dalam proses pengembangan keilmuan ini. Kalau nggak ya, ketinggalan to kita,” ungkap Prof. Burhan Nurgiyantoro, Kepala Pusat Berkala Ilmiah UNY, mengamini pendapat kedua sosok diatas.

Seraya menegaskan bahwa sorak-sorai untuk mengejar Scopus yang ada saat ini di UNY bukanlah sekedar euforia, tapi berlandaskan perjuangan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis kecendekiaan yang telah lama dirintis UNY. Menghelat 28 Seminar Internasional, kemudian menjadi salah satu wahananya.

Memudahkan Dosen Mengikuti Seminar

Salah satu langkah menjadikan seminar internasional sebagai wahana menabur ilmu pengetahuan, terletak pada kemampuannya mendorong penerbitan prosiding terindeks Scopus. Prosiding adalah artikel-artikel

yang dipaparkan dalam seminar internasional, dan kemudian dibukukan serta termuat dalam Scopus. Untuk menambah prosiding terindeks ini, UNY juga menggelar beragam seminar internasional on the spot di kampus. Sehingga para akademisi UNY dapat memaparkan tulisannya di hadapan publik, dan bersaing dengan akademisi dari penjuru dunia yang juga hadir dalam seminar tersebut.

“Jadi seminar sebagai momentum. Mahasiswa kita, dosen kita, langsung memaparkan idenya di UNY on the spot,” ungkap Margana.

Dalam Seminar 4th International Conference on Research, Implementation and Education of Mathematics and Science (ICRIEMS) misal. Seminar yang digelar FMIPA UNY selama dua hari tersebut, diungkapkan oleh Margana, menghasilkan 17 artikel prosiding dari civitas UNY yang terindeks Scopus.

Selama tahun 2017 dan 2018, UNY juga menjadi tuan rumah konferensi internasional The Association of Teachers of English as Foreign Language (TEFL) dan Teachers of English as Foreign Language in Indonesia (TEFLIN), yang sedang dalam proses untuk mempublikasikan seratus arikel prosiding terindeks Scopus. Walaupun belum diketahui berapa jumlah artikel yang akan berasal dari karya civitas UNY.

“Bulan-bulan selanjutnya juga masih ada seminar internasionalnya Pascasarjana (ISSE dan ICTVT), FIP (InCoTEPD), FBS (ICollate), FIS (ICSSED). Dari INCoTEPD saja, kita mentarget civitas kita untuk 65 artikel prosiding terindeks scopus. Kita fasilitasi biaya pembayaran, pendaftaran, dan insentif. Walau tetap kita kompetitif, tidak mentang- mentang seminar yang gelar UNY, artikel jurnalnya dari UNY semua. Kalau jelek ya tidak lolos,” tegas Margana.

Disamping itu, UNY juga mengakomodasi para civitasnya yang hendak menjadi pemakalah dalam seminar internasional yang digelar di luar negeri. Seluruh biaya mulai dari pendaftaran, tiket pesawat, dan uang saku, akan diberikan UNY dalam bentuk perjalanan dinas

“Tapi harus jadi pemakalah, bukan cuma mendengarkan saja. Kita Prof. Edi Purwanto, Wakil Rektor II UNY.

Lebih Murah dari Mengirim Delegasi Ke Luar Negeri

Akan tetapi, untuk biaya pengiriman delegasi yang diungkapkan Edi tersebut, biaya yang harus dikeluarkan UNY ternyata relatif tinggi dibanding menggelar seminar sendiri.  Kembali ke tujuan untuk mendorong dosen UNY menulis, kalau mengirim keluar, Edi mengungkapkan bahwa universitas tidak memiliki flesibiltas dari biaya dan waktu. Katakanlah misal, kita punya target mencetak 100 artikel jurnal terindeks Scopus. Maka kita harus mengirimkan 100 dosen itu ke luar negeri, lengkap dengan mengurus segala perizinan, tiket pesawat, akomodasi, biaya seminar, dan lain-lain.

Basikin yang juga berperan sebagai anggota Tim Asistensi Jurnal Ilmiah dan Tim Asistensi Konferensi Internasional Internasional Terindeks Scopus, memang mengaku belum mengetahui secara spesifik angkanya. Akan tetapi, ia mengamini pendapat tersebut dan memandang bahwa secara kasar biaya pengiriman delegasi akan memiliki nominal yang relatif besar. Terlebih jadwal dan deadline nya tidak fleksibel. Jika kita menggelar seminar sendiri, kita bisa siasati waktu-waktu dimana dosen memiliki waktu senggang. Seminar ICERI dan beberapa seminar lain misalnya, digelar September-Oktober. Itu karena dosen sudah menggunakan waktu liburan kuliah, untuk menulis. Sehingga di awal tahun ajaran bisa langsung menseminarkan artikelnya.

“Sehingga kalau kita seminar di luar negeri, mau tidak mau kita ikut jadwal mereka terus. Disamping faktor tadi, bahwa kita harus membayar fee yang tidak sedikit. Menggelar seminar sendiri, di UNY, dan di Yogyakarta, ini relatif efisien dan menunjukkan bahwa kita juga memiliki repurtasi dan kemampuan akademik yang baik,” pungkas Basikin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here