Home LAPORAN UTAMA Festival Pancasila, Membangun Rumah Cinta

Festival Pancasila, Membangun Rumah Cinta

197
0

Guru bangsa dan pimpinan universitas sepanggung. Mereka mengorasikan Pancasila secara kreatif dan persuasif. Hampir seribu mahasiswa mamadati halaman rektorat

 

Ratusan mahasiswa berjas biru itu melingkari tower Rektorat UNY. Mereka, sebagian besar, terdiri atas mahasiswa Bidik Misi dan Ormawa. Menghadap utara, tepat di panggung berukuran sedang, sorot mata mereka menyiratkan antusiasme karena menyaksikan orasi para petinggi perguruan tinggi se-Yogyakarta.

 

Guru Bangsa, Ahmad Syafii Maarif, duduk diapit Sutrisna Wibawa dan Yudi Latif. Selebihnya para penggawa universitas duduk membanjar rapi. Mereka sama-sama menunggu giliran menyampaikan orasi dalam rangka Festival Pancasila pada Rabu, 6 Juni 2018.

 

Gelayut awan yang makin menghitam kemerah-merahan tanda menjelang senja, meskipun juga di bulan ramadan, tak menyurutkan semangat cendekiawan muda UNY. Ketika mikrofon disabet salah seorang orator, sorak-sorai mahasiswa memecah halaman rektorat. Giliran Suminto A. Sayuti, budayawan sekaligus Guru Besar Bidang Sastra berorasi, tiba-tiba suasana hening. Mereka takjub dengan sebiji sajak yang dideklamasikan Suminto.

 

“Dari karangmalang menuju Indonesia, ngomong Pancasila, tidak harus dengan statement akademik, tetapi akan lebih indah untuk Anda semua melalui puisi,” ucap profesor kampus ungu itu. Ia mewacanakan Pancasila dengan puisinya berjudul Mari Membangun Rumah Cinta.

 

Bagi Suminto, Pancasila serupa puisi yang ditenun pendiri bangsa. Wujud estetik penyampaian orasi itu kemudian ditekankan lewat karya sastra. Salah satu bait menegaskan, “Kitapun anak-anak khatulistiwa, mari kita bangun rumah cinta, dengan pintu dan jendela terbuka.” Penggalan sajak ini mengamsalkan Indonesia sebagai garis imajiner berupa khatulistiwa yang membentang dari Sabang  sampai Merauke.

 

Di bawah khatulistiwa, beragam suku menginduk pada satu identitas nasional yang menamai dirinya sebagai Indonesia. DIksi “pintu” dan “jendela” yang terbuka di sana memberi makna betapa Pancasila merangkul tiap golongan dengan keterbukaan seluas-luasnya. Suminto mafhum, puisinya itu, secara tersirat dapat ditafsirkan sebagai keterbukaan dan kebermaknaan Pancasila. Ia juga mengejawantahkan sila pertama seperti berikut.

 

“Dengan atap rumbia patahan mega, dengan fondasi agama dan keyakinan diri menghujam tertancap di pekat bumi pertiwi. Dengan tiang keragaman budaya, huruf dan kata menjadi ornamen dinding, kalimat dan wacana menjadi pagar keliling, kita merumahkan diri lewat lintasan lintasan sunyi tapi abadi. Mari kita bangun rumah cinta tempat kita berbagi suka dan duka.”

 

Senada dengan Suminto, orasi Yudi Latif, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), keterbukaan Pancasila diandaikannya sebagai representasi jiwa lebar. “Kalau seluruh sila Pancasila itu kita peras dan kemudian kita rangkumkan prasyarat mentalnya, apa yang diperlukan agar Pancasila itu bisa dijalankan? Kejiwaan yang kita perlukan untuk memberikan Pancasila itu adalah jiwa jiwa lebar,” katanya.

 

Yudi menguraikan lebih lanjut kalau Pancasila menampung pusparagam yang ada di Indonesia. Mengambil pilihan kata “keluasan samudera” yang menampung pelbagai jenis ikan, Pancasila diimajinasikan Yudi dengan mengambil anasir geografis. Penjelasannya relevan pula dengan keadaan teritori Indonesia yang terdiri atas bejibun pulau di tengah perairan lepas.

 

Dengan tegas, Yudi mengatakan, “Jiwa lebar adalah jiwa bersatu. Jiwa lebar adalah jiwa berbagi. Itulah semangat dasar Pancasila yang kalau kita bisa bersatu, bisa berbagi, itulah yang disebut jiwa gotong royong.” Nilai gotong royong ini adalah pembeda rumusan kenegaraan Indonesia dengan negara lain.

 

Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia, pernah mengatakan pula kalau gotong royong merupakan sikap kultural bangsa Nusantara sejak lampau. Itu kenapa Soekarno mengaku bukan pencetus Pancasila, melainkan sekadar penggali nilai-nilai sosiologis yang kemudian dipadatkan menjadi lima sila.

 

Buya Syafii punya argumen lain manakala membincang soal multikulturalisme Indonesia. Bila orator lain hanya merujuk pada analekta suku, ia justru memilih kata kuliner. Pilihan tepat buya ini acap kali luput diulas di tengah festival Pancasila.

 

Kuliner yang akrab didengar jamak orang, namun kurang diperhatikan sebagai nilai pluralitas bangsa Indonesia. Pembukaan orasi yang ciamik itu dikemukakan buya tak serta-merta dalam rangka glorifikasi, tetapi mengantarkan pada titik kegelisahannya.

 

“Sekarang kita sudah merdek. Hampir 73 tahun. Banyak kemajuan. Banyak prestasi. Tapi sila kelima dan Pasal 33 UUD 1945 masih belum turun ke bumi sepenuhnya. Ini persoalan besar kita,” urai profesor emeritus Jurusan Sejarah UNY itu. Lebih tajam, Buya Syafii mengaitkan persoalan aktual yang mendera bangsa, yaitu gerakan radikal yang mengarah pada terorisme. Menurutnya, pemicu besarnya adalah ketimpangan sosial.

 

Buya Syafii tak mencoba bersikap pragmatis. Orasinya, selain terdengar heroik, khusyuk, dan argumentatif, juga menyodorkan solusi praktis. “Kita berharap para konglomerat yang besar-besar itu. Jumlahnya ada 150 orang dengan aset sekitar 3000 dolar. Melebihi APBN. Mereka diharapkan juga turut mengelola Pancasila ini. Bukan dalam bentuk pidato dalam bentuk pesta ria tapi nilainya itu kita bawa turun untuk menyelamatkan bangsa dari segalam ancaman,” tuturnya. Ia mengalamatkan pelbagai ancaman itu meliputi liberalisme, kapitalisme, terorisme.

 

Di antara pimpinan universitas yang hadir—UGM, UIN Sunan Kalijaga, USD, UKDW, UPN, dan UST—orasi Sutrisna menggunakan retorika persuasif. Ia banyak menggunakan diksi ajakan. “Jangan katakan Pancasila ajaran thogut. Sebab sila pertamanya adalah ajaran ketauhidan. Jangan katakan Pancasila tidak pro kerakyatan sebab kemanusian dan keadilan sosial menjadi nyawanya Pancasila,” ungkapnya.

 

Sutrisna menyampaikan kalau sisi magis Pancasila itu menyatukan dan menggerakan kebinekaan. Baginya, jika Pancasila tak lahir di bumi Indonesia, perpecahan horizontal niscaya terjadi. Pancasila mengikat mereka di bawah satu payung yang, menurut Sutrisna, “Mengajarkan kita untuk mengutamakan musyawarah sebelum mufakat. Hari ini saya mengajak hadirin semuanya. Kita ber-Pancasila, kita bersatu, kita berprestasi untuk Indonesia Raya. Untuk Indonesia Jaya!”

 

Festival Pancasila diselenggarakan dalam rangka memperingati Kelahiran Pancasila 1 Juni. Panitia di bawah koordinasi Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi (PSPK) UNY. “Festival Pancasila merupakan salah satu bentuk untuk membangun kesadaran publik,” ujar Samsuri, Ketua PSPK. Ia mengharapkan agar acara ini menjadi tradisi tahunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here