Hidup hadir menurut Cak Nun sebagai kolusi berupa berkah dan kasih sayang Allah. Untuk mengisi kehidupan, kita juga harus berbagi berkah dan kasih sayang sebagai bentuk rasa syukur.

 

Hal tersebut diungkapkannya pada sela-sela Syawalan di Audiorium UNY, Senin (10/06/2019). Secara singkat kepada Redaktur Pewara Dinamika Ilham Dary Athallah, Emha Ainun Najib atau biasa dijuluki Cak Nun berpesan agar civitas UNY bekerja dan mengajar dengan baik. Sehingga berkah dan kasih sayang itu dapat mengalir sampai jauh. Semua pesan tersebut ia sampaikan dengan penuh canda dan merendah

 

Cak Nun, dalam ceramah Syawalan tadi menyebutkan singkat perlunya mensyukuri Idul Fitri dengan cara menyalurkan dan memanfaatkan berkah yang selama ini kita peroleh. Bagaimana caranya?

 

Bersyukur. Simpel, ning uwangel e gak karuan (sangat sulit). Begini pondasinya. Hidup itu ada kolusi dengan Allah. Karena ada dan restu Allah, maka kita ada, kita tidak kalah, kita ikhlas lillahi ta’ala (demi Allah ta’ala).

 

Ada klausul untuk mendapatkan ridha Allah di dunia maupun akhirat yang bukan transaksi rasional, tetapi melainkan transaksi cinta. Puasa Ramadhan untuk mengingatkan bahwa, manusia butuh membatasi diri dan mengendalikan diri.

 

Oleh karena itu, ada matriks halal, haram, makruh, sunnah untuk meregulasi mana yang harus dibatasi dan mana yang harus dilampiaskan. Sedangkan baik, berkah, perlu kita syukuri. Kita salurkan dan kita manfaatkan.

 

Ilmu pengetahuan itu termasuk yang baik. Jadi harus disalurkan. Bekerja dan mengajar dengan baik. Wabil khusus kepada umat luas.

 

Di kampus awakmu belajar ngelmu to (kalian belajar ilmu pengetahuan)? (Ilmu) ojok gawe wong adigung lan keminter (Jangan membuat orang menjadi sombong dan sok pintar). Tapi (harus) membuat masyarakat luas ikut pintar dan mulia.

 

Menurut Cak Nun, apakah masyarakat selama ini belum cukup bersyukur?

 

Ora bakal cukup (Tidak akan cukup). Gusti Allah ki jan-jane sangat memurahi kita dengan limpahan berkah dan rahmatnya.Kita bisa idul fitri, kita bisa halal bi halal. Padahal, tantangan yang dihadapi manusia sangatlah besar.

 

Bayangkan sekarang posisi pimpinan. Seorang Sayyidina Umar (Khalifatur Rasyidin, pemimpin jazirah Islam setelah Nabi Muhammad dan Abu Bakar Asy-Syidiq), pada waktu itu sampai membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Hanya karena mendengar, tidak melihat langsung lho ya apalagi nonton berita, mendengar ada unta kepleset di jalan Madinah karena infrastuktur yang tidak baik.

 

Betapa ia sangat menyalahkan diri sendiri, dan merasa menyesal karena sebagai pimpinan ia merasa bertanggungjawab dengan semua jalanan di Madinah. Lengkap dengan keselamatan setiap warganya.

 

Sikap Sayyidina Umar ini perlu diteladani. Amanah ditempatkan setinggi-tingginya. Masyarakat itu juga pimpinan di posisinya masing-masing. Amanah jabatan, amanah harta, amanah ilmu, itu harus kita ingat. Rektor, salah nembung mahasiswa, jadi mudarat. Rakyat, tidak jadi warga negara yang patuh hukum, juga mudarat.

 

Semuanya peparingan (pemberian) Gusti Allah. Tambah gede peparingannya, tambah abot (berat) tanggung jawabnya.

 

Mbalik meneh (kembali lagi), cukup atau tidak ling bersyukur? Tidak hanya tidak akan cukup. Aslinya (kita semua) auto mlebu (masuk) neraka kalau begini caranya. (lalu tertawa bersama dengan pewawancara).

 

Berarti kalau otomatis masuk neraka, boleh dibilang, tidak ada gunanya bersyukur dong Cak?

 

Nah iku kesimpulan sing waton (tidak benar). Allah sangat pemurah, dan Allah mengalah. Allah merumuskan kewajiban manusia tidak seberat itu. Cukup puasa, tidak makan dan tidak minum selama matahari bersinar seharian penuh, maka kamu akan kembali ke fitrah sebulan kemudian.

 

Masih ingat kisah Isra Miraj? Ada perintah salat 50 kali dari Gusti Allah. Annas bin Malik meriwayatkan, Rasulullah bersabda: Allah memerintahkan shalat sebanyak 50 waktu sebagai kewajiban atasku dan umatku.” Setelah menerima perintah (shalat) itu Nabi Saw kembali berpapasan dengan Nabi Musa seraya berkata: Apa yang diwajibkan oleh Tuhanmu kepada umatmu? Nabi Saw menjawab, “Shalat sebanyak 50 waktu.”

 

Nabi Musa saat itu memberi nasihat kepada Kanjeng Nabi untuk kembali menghadap Gusti Allah. Disitulah Nabi Nabi Muhammad kembali dan meminta keringan pada Tuhannya seperti yang disarankan oleh Nabi Musa. Kemudian Allah memberikan keringanan sehingga jumlahnya menjadi separuhnya. Berulang lagi, sampai keringanan menjadi lima waktu.

 

Allah menciptakan manusia hanya untuk menyembahNya. Jadi wajar kalau kewajiban kita harusnya besar. Tapi gusti Allah dengan begitu baik, memahami betapa lemahnya manusia, lalu selalu memberi keringanan pada kita.

 

Keringanan itu sering kita salah gunakan. Entah salah, khilaf, lupa, bahkan sembayang lima waktu pun belum tentu lengkap. Aku wae ora (Saya saja tidak), kadang jamak.

 

Jadi, jangan tanya begitu (tidak ada guna bersyukur). Dan mari hayati idul fitri ini sebagai kemurahan hati Allah. Bersyukur setidaknya jadi tindak mulia yang paling lemah, yang paling bisa kita lakukan. Karena kalau kita menerima segala kebaikan dan kelonggaran dari Gusti Allah, kita sebenarnya sudah harus Drop Out (DO) lho kalau istilah anak sekolah.

 

Terkait bersykur lagi Cak, bagaimana cara kampus supaya bisa mengajarkan bersyukur kepada para mahasiswanya?

 

Keteladanan, itu satu.  Tadi sudah saya sebutkan, masyarakat itu juga pimpinan di posisinya masing-masing. Amanah jabatan, amanah harta, amanah ilmu, itu harus kita ingat. Termasuk para rektor, para dosen.

 

Yang kedua, memahami ajining urip (makna kehidupan). Selama ini kan kita tidak banyak punya fakultas filsafat, jurusan filsafat, atau pelajaran filsafat. Padahal belajar filsafat ini juga penting untuk hidup. Untuk mati juga, belajar fakultas hantu misal, itu tadi sempet tak dadekke (jadikan) guyonan.

 

Nanti, yen wayahe cah UNY mulang (waktu alumni UNY telah lulus dan berprofesi menjadi guru), muridnya juga harus diajari bagaimana hidup yang baik dan bersahaja.

 

Pak Rektor saja guru besar filsafat jawa. Beliau paham betul tentang kehidupan. Harus banyak belajar kamu (para mahasiswa) dari Pak Rektor. Kok malah (sebagai penceramah syawalan) ngundang aku Pak Rektor iku lak jyan.. ora pantes tenan aku (Saya sangat tidak pantas ).

 

Mempelajari kebatinan, urusan hidup mati, itu nanti bisa saya support (dukung) silabusnya. Termasuk landasan keilmuannya secara mendasar mana yang bisa dikolaborasi secara akademis dan mana yang tidak. Karena di US, Eropa, mulai ada pelajaran tentang filsafat hidup sebagai soft skill dan kita jangan terlambat. Mari kita bersyukur bahwa kita bisa berpikir sampai sejauh itu, sebagai keistimewaan dan kemurahan hati Gusti Allah.

 

Tidak banyak, kalau tidak boleh menyebut kita satu-satunya, makhluk hidup yang diberi Allah kemampuan untuk bertanya dan berpikir kritis. Memanfaatkannya, adalah cara bersyukur yang luar biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here