Ayahnya takjub tanda terkejut, ketika Kuswarsantyo memutuskan jadi guru tari. Namun kiprah dan lenggokan sang Doktor Jathilan, tak pernah ingin berhenti. Berkat kerja keras itu, tak hanya gelar KRT Candrawaseso yang tersemat. Tapi juga amanah sebagai Juara 3 Dosen Berprestasi Tingkat Nasional, sekaligus sebagai bagian dari delegasi kraton Jogja yang kerap menghiasi ragam pementasan di penjuru dunia.

KRT. Candra Radhana, ayah dari Kuswarsantyo, saat itu dikenal sebagai penari klasik kraton. Menjadi wajar kemudian, Candra Radhana yang saat itu membesarkan keluarganya di dalam benteng kraton, ingin para putranya mengikuti jejak sang ayah. Tapi Santyo, demikian ia kerap disapa sejak kecil, mbalela. Ketidaksukaannya jika gending karawitan mulai bertabuh kala dulu kecil, juga tak diketahui alasannya hingga sekarang.

 

Tapi satu hal yang ia ketahui dengan pasti, adalah perilakunya sejak kecil yang cukup aktif. Kegemarannya berlarian dan melompat kesana kemari kala itu tersalurkan di seputaran benteng kraton hingga Alun-Alun Selatan. Dari situ, Sunaryo, Dosen Etnomusikologi ISI Yogya yang juga paman dari Santyo, melihat potensi.

“Anak ini tidak bisa dipaksa senang menari. Dia suka loncat-loncat, maka ayo kita ajak loncat-loncat,” ungkap Sunaryo kepada Candra Radhana, layaknya ditirukan oleh Santyo.

 

Dari kesadaran itulah, Santyo kecil mulai menekuni dunia tari-menari semenjak kelas 5 SD. Dimulai dengan tarian yang dalam perjalanannya belajar ia gemari, karena memfasilitasi keaktifan yang sang bocah miliki. Pencariannya atas ilmu pertunjukan tersebut, bahkan dilandasi keyakinan bahwa ia tak mau diajari oleh sang ayah. Hanya mau diajar oleh Sunaryo. Sehingga tarian kuda lumping ala Bagong Kussudiardja, kreator di tahun 1960-an, menjadi rujukannya ketika berguru dengan sang paman.

 

Tapi justru dari perkenalan dan alergi sedemekian rupa lah, Santyo mulai terbuka pandangannya bahwa segala tari yang dimiliki kekayaan budaya Ngayogyakarta Hadiningrat begitu indah dan menakjubkan. Sehingga ketika menapak SMP dan mulai mencintai seni tari klasik gaya Jogja, apalagi menekuni dan mengajar Pendidikan Seni Tari di IKIP Yogyakarta, tangan sang ayah selalu terbuka untuk mendekap sang putra belajar lebih giat. Dengan tetap menyisakan tempat spesial di hati Santyo untuk Jathilan, dan kegemarannya melompat riang.

 

“Jadi sampai ayah saya ketawa lucu geleng-geleng takjub, kok bisa anak ini jadi guru tari. Padahal saya itu ya, mbalela. Waktu pertama dipaksa (seni tari), tidak mau! Dan mungkin kalau ayah saya belum kapundhut dan tau saya malah jadi Doktor Jathilan, pasti akan geleng-geleng lagi,” kenang Santyo sembari terkekeh.

 

Dari Balai Seni ke Balai Seni

 

Untuk mensyukuri hal tersebut, Balai Seni Candra Radhana didirikan Santyo bersama sang kakak di tahun 2009. Sebuah sanggar seni yang didedikasikan keduanya untuk pengembangan dan praktek seni tari. Semacam laboratorium tari informal cabang UNY, ungkapnya. Murid maupun mahasiswa yang pernah menimba ilmu dari Santyo dan memiliki waktu senggang, ia ajak untuk mengajar disana. Gamelan dan pendhopo kecil, siap menemani tiap langkah lenggokan mereka.

 

“Untuk pemberian namanya, Balai Seni Candra Radhana ini sengaja namanya kita ambil dari gelar ayah kami. Beliau menginspirasi kami berdua untuk terus menari, dan memperoleh kesempatan yang tak terbayangkan sebelumnya,” ungkap Santyo.

 

Walaupun demikian, Balai Seni Candra Radhana bukanlah balai seni pertama dan satu-satunya yang mewarnai hidup Santyo. Awalnya ia menimba ilmu Kuda Lumping bersama sang paman. Sebuah keputusan yang diambil, karena Santyo tetap tak berkenan untuk belajar dengan sang ayah. Curiga jika ia digoda untuk kembali belajar seni tari klasik

 

Namun tari klasik yang dulunya ia cemaskan, justru berubah menjadi kegemaran yang ia tekuni sepanjang hayat. Santyo perlahan mulai menggandrungi seni tari klasik gaya Yogyakarta. Perkenalannya bermula dari salah seorang kawan di Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa Ngayogyakarta, sebuah joglo di daerah Pujokusuman yang di kemudian hari menjadi tempatnya bertama kali menimba ilmu tari klasik.

 

Kawannya tersebut sudah mencoba dan relatif mahir untuk anak seusianya. Bahkan sudah pernah tampil di panggung Ndalem Pujokusuman. Dan etika mengajak, sang kawan sebenarnya hanya menggoda Santyo. Khas anak kecil yang sedang unjuk kebolehan, lalu menantang kawannya untuk coba-coba. Tapi Santyo akhirnya tergoda. Sehingga masa-masanya bersekolah di SMPN 2 Yogyakarta, kemudian menjadi saksi Santyo yang mulai menimba ilmu di Pamulangan Beksa

 

“KRT. Sasmita Mardawa, punggawa tari klasik Yogyakarta, saat itu menjadi nahkoda Pamulangan Baksa. Kami semua belajar banyak dari beliau, saya yang awalnya tergugah dari teman dan ikut-ikutan, merasa bahwa seru juga seni tari klasik,” kenang Santyo.

 

Dari perkenalannya dengan seni tari klasik, Santyo mulai memahami ada berbagai karakter yang memiliki corak goyangan berbeda. Raga Santyo misalnya, walaupun kecil dan tak begitu tinggi, disebut oleh para pengajar tarinya bercorak gagah. Peran menjadi Anggada (kera), begitu cocok dengannya.

 

Namun sebelum berperan sebagai kera, pembelajaran ala Kraton mewajibkan semua yang menekuni seni tari untuk belajar gaya halus terlebih dahulu sebagai dasar. Secara tradisional, mereka yang telah menguasai tari gaya halus diyakini lebih mudah belajar tari gaya apapun. Termasuk, menari gaya gagah yang kemudian membuatnya gandrung atas tari klasik dan terus mengembangkan potensinya di bidang kesenian ini.

 

Dan benar saja, selepas menuntaskan kursus selama 3 tahun, Santyo yang kala itu mengenyam bangku kelas dua di SMAN 1 Kasihan, bisa berperan sebagai Wanara (pasukan manusia berekor monyet) dengan lihai untuk pertama kalinya di atas panggung. Tugas pertama itu pada awalnya datang mendadak ditengah kebutuhan Pamulangan Beksa untuk menggelar pementasan wisata. Dalam kisah Kumbakarna yang saat itu dimainkan Santyo, Wanara memang dikisahkan sekadar sebagai pelengkap yang akhirnya berhasil dikalahkan oleh Kumbakarna. Juga sekedar melompat-lompat dan melawan tokoh utama.

 

Namun, aksinya tersebut lebih dari cukup. Untuk meyakinkan Santyo bahwa ia memiliki talenta di bidang tari klasik, sekaligus memberi kebimbangan bagi Santyo atas masa depannya. Karena di dalam hati Santyo, masih ada impian dan cita-cita untuk menjadi camat dan mengenyam sekolah sarjana hukum. Tapi menari, apalagi belajar langsung kepada Bagong Kussudiardja, adalah kesempatan yang tak ingin ia lewatkan.

 

“Jadi selepas makin sering nari di Pamulangan Beksa, semakin bimbang untuk terus menari atau mengejar cita-cita saya belajar hukum dan jadi camat. Akhirnya saya tetap belajar ke tempat Pak Bagong, sekaligus setelah lulus masuk Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD),” ungkap Santyo.

 

Batal Jadi Camat

 

Selepas lulus dari SMAN 1 Kasihan, masuklah Santyo ke APMD dengan harapan bisa menjadi camat. Pilihan tersebut diambilnya selepas namanya tak tercantum dalam hasil UMPTN, kala ia menjajal beberapa jurusan S1 Hukum di universitas-universitas negeri. Kegiatan menari tetap ditekuninya sebagai hobi, yang menurut Santyo, ia lakoni dengan ikhlas karena dengan berada di atas panggung dan memperoleh apresiasi tepuk tangan saja, hatinya merasa cukup.

 

“Jadi tidak ada awalnya pikiran cari honor atau hidup dari tari, apalagi jadi guru tari,” kenang Santyo.

 

Namun semuanya berubah kala surat edaran dari APMD datang menjelang akhir studi D3 nya. Ikatan dinas kala itu mewajibkan setiap lulusan yang nantinya akan direkrut sebagai PNS, untuk ditempatkan di Kalimantan. Keluarganya tak setuju Santyo pergi dari Jogja, karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki. Akhirnya di tahun 1987,  Santyo menjajal jurusan Pendidikan Seni Tari yang baru-baru saja dibuka di IKIP Yogyakarta. Menjadi salah satu angkatan awal yang ada di jurusan ini, sekaligus menjalani kuliah ganda di APMD hingga tuntas dua tahun kemudian.

 

Semasa dua tahun kuliah ganda tersebut, Santyo membagi waktunya dengan optimal. Pagi hari kuliah tari, dan sore hingga malamnya mengambil kelas di APMD. Sehingga ijazah D3 Pembangunan Masyarakat bisa diraihnya tanpa halangan yang berarti. Bahkan sempat mewakili APMD dalam lomba tari topeng di rangkaian kegiatan Porseni, mengalahkan IKIP Yogyakarta yang seharusnya jadi almamater sendiri.

 

“Saya kan waktu itu masih junior di IKIP, jadi terpilih mewakili APMD waktu Porseni, dan ternyata menang melawan kakak tingkat saya yang mewakili IKIP. Tapi dua tahun berikutnya, saya sudah senior, saya mewakili IKIP, ganti saya kalahkan lagi APMD. Itu semua dalam lomba tingkat se-Jawa Bali,” ungkap Santyo sembari terkekeh.

 

Atas bakatnya yang telah terpoles manis di bidang tari tersebut, pasca lulus di tahun 1991, Santyo langsung diajukan oleh Ketua Jurusan Pendidikan Seni Tari untuk menjadi dosen. Kebetulan saja, IKIP Yogyakarta masih kekurangan dosen tari klasik gaya Jogja. Sehingga sejak tahun 1990, ketika ia menjadi mahasiswa tingkat akhir, ia telah menjadi asisten dari Almarhum Pak Sarwono, satu-satunya dosen tari klasik gaya Jogja yang kala itu dimiliki IKIP Yogyakarta.

 

Saat Maret 1992 itulah, ketika Santyo resmi diangkat sebagai PNS, orang tuanya takjub serta tak menyangka anaknya secara resmi berprofesi sebagai “guru tari”. Kiprah tersebut kemudian secara intensif dilakukannya, dengan mengembangkan kapasitas keilmuan lewat S2 dan S3 Pengkajian Seni Pertunjukan.

 

“Pengalaman saya belajar itu jadi unik, karena saya awalnya menekuni Jathilan, terus berkecimpung dan menekuni tari klasik, tapi ditutup dengan S3 membahas disertasi tentang Jathilan. Jadilah saya dikenal sebagai Doktor Jathilan. Hidup ini berputar dan unik betul, seakan saya terlahir untuk Jathilan,” ungkap Santyo.

 

Doktor Jathilan Keliling Dunia

 

Kiprahnya sebagai guru dan pembelajar tari, juga tak membuat dirinya berhenti untuk menari secara riil di atas panggung. Sejak menjadi asisten dosen, Pamulangan Beksa tak lagi menjadi satu-satunya panggung tempat Santyo pentas. Selepas KKN di tahun 1990, Santyo terlibat dalam Training Center yang digelar oleh Kraton untuk mengirimkan delegasi budaya ke Amerika Serikat. Bersama dengan paman, ayah, serta dua orang saudara sepupu yang kebetulan sama-sama penari, Santyo terbang ke negeri Paman Sam selama 1,5 bulan untuk unjuk kebolehan.

 

“Spektakuler itu. Baru pertama kali ke luar negeri, langsung satu setengah bulan dan bersama keluarga. Menari muter-muter Amerika dari ujung timur sampai ujung barat. Washington DC, New York, Boston, Berkeley California, sampai Los Angeles,” kenang Santyo yang semasa di Amerika Serikat, banyak bertemu pakar Karawitan maupun beberapa dosen seni asal Yogyakarta yang menetap dan berkiprah disana.

 

Selepas dari Amerika Serikat, Santyo juga turut serta dalam berbagai delegasi kraton untuk melakukan diplomasi budaya. Mulai dari bersama Pak Bagong dalam penampilan di Pakistan dan Singapura pada 1992, Menari dan memberi workshop pelatihan tari jawa di Brazil selama 1 bulan pada tahun 1993, serta yang paling akhir, adalah turut serta dalam rombongan yang dipimpin GKR Mangkubumi ke Museum Louvre, Abu Dhabi, pada 29 Januari hingga 3 Februari 2018 lalu. Santyo dan tim delegasi seni budaya Kraton, kala itu tampil berdampingan dengan berbagai kesenian tradisional dari penjuru dunia.

 

“Mereka senang bahkan, karena baru pertama ada budaya Jawa di Abu Dhabi. Selain mengenalkan tarian klasik, kami mengenalkan budaya Jawa dan juga wayang,” ungkap GKR Mangkubumi dalam Doorstop di Bangsal Srimanganti Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat seusai menyaksikan gladi bersih pementasan, Sabtu (27/1/2018).

 

Selain tampil di penjuru dunia, UNY juga tak luput dari panggung tempat Santyo tampil. 8 Desember 2017 lalu, Santyo bersama Prof. Sutrisna Wibawa, Rektor UNY, juga menyempatkan diri untuk njathil keliling kampus. Aksi jathilan tersebut bermula atas tantangan sang rektor ketika masih menjabat sebagai Sekretaris Dirjen Belmawa Kemristekdikti. Sembari menyelamati, ia menantang Santyo untuk unjuk kebolehan. Momentum bencana alam pasca badai siklon Cempaka dan Dahilia akhir tahun lalu, serta sebagai rasa syukur atas akreditasi A Prodi Pendidikan Seni Tari dan gelar juara ketiga dosen berprestasi nasional, membuatnya terpanggil untuk mengabdi kepada masyarakat.

 

“Tapi kita kubur semua itu (tentang) akreditasi A dan gelar dosen berprestasi. Njathil untuk membantu korban bencana, sekalian cari dana. Pak Tris setuju dan selama dua minggu beliau latihan menari secara pribadi. Kami (Dosen dan Mahasiswa Pendidikan Seni Tari yang turut dalam jathilan keliling kampus) merasa terhormat,” kenang Santyo.

 

Pengabdian kepada masyarakat juga terus dilakukannya dengan mengembangkan Jathilan sebagai kebudayaan yang makin dicintai rakyat. Sudah sembilan tahun berturut, Santyo ditugaskan Dinas Pariwisata Provinsi DIY sebagai narasumber sekaligus juri dalam Festifal Jathilan.

 

Langkah-langkah untuk terus mempopulerkan Jathilan, juga dilakukannya dengan berkreasi mengembangkan kesenian tersebut. Sembilan Hak Kekayaan Intelektual, berupa tujuh karya seni dan dua buku, terdaftar atas nama dirinya. Jathilan Religius Raden Patah, salah satu karyanya yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, merupakan salah satu dari sembilan karya itu. Didalamnya Santyo berkreasi, sekaligus berupaya membalikkan image negatif bahwa jathilan tak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Padahal, jathilan sebagai seni bisa digunakan untuk menyampaikan pesan dakwah layaknya diteladankan oleh para Wali Songo kala memainkan wayang.

 

Ke depan, dosen yang juga memperoleh status abdi dalem dan gelar Candrawaseso pada 2002 itu berharap, bahwa kiprah UNY maupun Kraton Yogya dalam bidang tari tradisional,dapat membuat generasi muda makin bangga atas kebudayaan tradisional. Filosofi tari klasik yang kerap terselip dalam setiap gerakan maupun cerita, juga dapat menjadi pelajaran mulia bagi anak-anak yang kini kerap menghadapi pengikisan karakter.

 

“Jadi ceritanya itu kan benar-benar bisa dihayati. Misal saya memerankan Lesmana, betapa sedihnya menyaksikan Rama ketika Shinta yang begitu ia cintai diculik. Dan itu diiringi tembang dan gendhing, yang liriknya sarat nilai moral. Selalu ada pelajaran yang bisa jadi pijakan kita menghadapi tantangan lintas zaman,” pesan Santyo.


Profil: Yogyakarta, 04 April 1965

Latar Belakang Pendidikan:

1988, D3 Pembangunan Masyarakat Desa, Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Yogyakarta

1991, S1 Pendidikan Seni Tari, FPBS IKIP Yogyakarta

1997, S2 Pengkajian Seni Pertunjukan, UGM Yogyakarta

2014, S3 Pengkajian Seni Pertunjukan, UGM Yogyakarta

Jabatan:

1991-1994, Pembina UKM Keluarga Mahasiswa Seni Tradisi (Kamasetra) UNY

1997-2002, Kepala Laboratorium Karawitan, FBS UNY

2007-2009, Staf Ahli Wakil Rektor 3 UNY bidang Seni

2015, Kepala Pusat Studi Kebudayaan LPPM UNY

2016-sekarang, Ketua Jurusan Pendidikan Seni Tari, FBS UNY

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here