“Fakultas bercorak warna biru, FMIPA, punya dekan baru. Ariswan, dosen Prodi FISIKA, optimis membawa fakultas lebih unggul di tingkat internasional. Ia mengusung tema besar kepemimpinan lewat konsep Total Quality Management (TQM)”

Ariswan, dosen Prodi Fisika lulusan Universite Montpellier II Prancis, menyabet 8 suara saat rapat tertutup senat FMIPA. Ia unggul dua angka dari Slamet Suyanto, dosen Pendidikan Biologi. Pemilihan dekan FMIPA periode tahun 2019-2023 itu berjalan demokratis. Ariswan mengusung visi “meningkatkan kualitas fakultas berbasis pada integrasi nilai-nilai agama, kebangsaan, dan sains melalui manajemen layanan prima menuju kesejahteraan bagi seluruh warga FMIPA UNY”.

 

Dalam paparan kritis di depan podium manakala kesempatan presentasi visi-misi, Ariswan memotret betapa dinamika yang terjadi di masyarakat, termasuk tantangan di dalamnya, mesti dicari solusi cerdasnya. Itu kenapa, menurutnya, perguruan tinggi harus ambil bagian lewat kontribusi nyata di lapangan. Tak terkecuali FMIPA, fakultas yang hendak ia pimpin selama lima tahun mendatang. “Dunia kampus khususnya FMIPA meniscayakan untuk terus berbenah diri melakukan suatu ikhtiar bertahap dari keberhasilan hari ini terus membangun dirinya untuk memiliki keunggulan yang lebih tinggi lagi (excellent faculty),” ungkapnya.

 

Ariswan melanjutkan, agar kontribusi itu sesuai sasaran, maka luaran sumber daya manusia yang dihasilkan sebuah kampus harus unggul. Demikian pula riset dan pengembangan ilmu serta teknologi, menurutnya, hendaknya “Melalui berbagai bentuk kerja sama dan networkingyang dikembangkan oleh fakultas dan/atau universitas.” Sebagai orang nomor satu di fakultas, Ariswan menyodorkan sejumlah konsep sinergis.

 

Bagi dosen sekaligus aktivis Muhammadiyah ini kampus memiliki keunggulan. Bukan sekadar pengembangan sains dan teknologi, melainkan juga berbasis integrasi nilai-nilai agama dan kebangsaan. “Integrasi antara nilai –nilai tersebut memberikan peluang bagi perguruan tinggi akan berkembang dengan dasar-dasar pemikiran, filosofi yang kuat serta memiliki orientasi yang lebih jelas,” paparnya. Lebih spesifik, Ariswan menilai bahwa prinsip-prinsip keagamaan tak sebatas upacara ritual, tapi juga suatu frame of thinking, sehingga menjadi etos maupun spirit. Inilah paket pikiran yang Ariswan tawarkan untuk melandasi aktivitas seluruh elemen di FMIPA.

 

Ariswan mengajak dosen, mahasiswa, maupun tendik agar kegiatan perkampusan bukan hanya dijadikan aktivitas kerja “duniawi”, melainkan juga motivasi yang bersifat transendental. “Orientasi kerja yang digerakan oleh keimanan yang dipadukan dengan pendekatan ilmiah lebih dapat menjamin kampus untuk meraih keunggulan daripada hanya dikembangkan secara parsial saja,” tambahnya.

 

Membawa FMIPA lebih top ke depan, Ariswan mengajukan 11 poin misi. Salah satunya prinsip yang ia sebut sebagai “Guru Sejati”. Pada poin ke-10 ia menulis, “Meneruskan revisi kurikulum yang merujuk pada ketentuan undang-undang dan stake holder, sehingga mampu dihasilkan tenaga kependidikan yang siap untuk menjadi ‘Guru Sejati’ lulusan S1, S2, dan S3 yang handal sesuai dengan kebutuhan pembangunan pendidikan yang berkualitas di negeri ini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here