Dinamika program D3 tak selalu mulus. Tapi karena etos kerja dari dosen, mahasiswa, dan alumni, ia mendapatkan atensi positif dari publik. Tawaran kerja sama dan hibah tiap tahun terus mengalir.

Oleh: Rony K. Pratama, Editor: Budi Mulyono

KARANGMALANG, Kuningan, dan Flamboyan masih sepi di tahun 60-an. Rumah-rumah belum berdempetan rapat, sempit, dan serasa pengap bagi para penghuninya. Penduduk asli masih memiliki sawah luas. Anak-anak, kalau sore, bertaburan girang bermain layangan. Sebagian bermain burung merpati, sedangkan yang lain serius mengamati ikan di rawa-rawa. Sudarsono, 79 tahun, warga Mrican, sayup-sayup mengenang memori itu. “Sekarang banyak berubah,” tuturnya, sambil mengapit rokok linting.

Dulu khalayak generasi 70, 80, 90-an menyebutnya IKIP Karangmalang. Nama itu merujuk pada IKIP Negeri Yogyakarta. Namun, karena area kampus berada di dusun Karangmalang, maka ingatan publik tertuju padanya. Tiap pelajar, yang berniat menjadi guru, selalu terngiang nama IKIP. Bahkan, usai berganti nama menjadi UNY pada 1998, nama IKIP masih melekat. Seperti pengakuan Wisnu, guru SD Negeri CT VII, yang acap kali mengganti nama UNY menjadi IKIP bila ditanya kerabat. “Kuliah di UNY, Mas. IKIP Jogja itu,” kenangnya.

Lahirnya UNY tak lepas dari perkembangan UGM. Pada masa Soekarno, tahun 1962, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan keputusan No. 92 Tahun 1962. Kebijakan itu melahirkan Institur Pendidikan Guru (IPG). Akan tetapi, problematika dualisme institusi pendidikan muncul. Selain IPG, pemerintah memiliki FKIP. Akhirnya, untuk menjembatani konflik, IPG dan FKIP digabung pada 3 Januari 1963. Empat bulan kemudian, pada 22 Mei 1963, IKIP Yogyakarta resmi lepas dari UGM. Demikian pula IKIP Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang.

Proses pembelajaran dimulai sejak kebijakan nasional itu. Mochtar Buchori, dalam karyanya berjudul Evolusi Pendidikan di Indonesia, Dari Kweekchool Sampai ke IKIP: 1852-1998, mencatat peristiwa historis itu sebagai ekspansi sistem pendidikan guru periode 1950-1965. Sepanjang sejarahnya, UNY menawarkan program D3, S-1, S-2, dan S-3. Walaupun demikian, nasib D3 masih terombang-ambing oleh kebimbangan dibandingkan dengan program sarjana. Sepinya peminat di satu sisi dan anggapan negatif di sisi lain. Banyak siswa masuk D3 hanya karena ditolak program S-1. “Padahal, kalau D3 kan kami lebih banyak praktik. Ini sesuai dengan dunia kerja,” ujar Lana, mahasiswa D3 Teknik Sipil.

Saat ini UNY memiliki delapan progam studi D3: Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Teknik Mesin, Teknik Otomotif, Teknik Sipil, Teknik Boga, Teknik Busana, Tata Rias-Kecantikan, Akuntansi, Pemasaran, dan Sekretari. Tiga di antaranya telah berakreditasi A, yakni Teknik Boga, Tata Rias-Kecantikan, dan Pemasaran. Program studi itu berada di bawah Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ekonomi (FE). Dua fakultas itu sengaja membuka program D3 karena berbasis praktik lapangan.

D3 Teknik Mesin baru dibuka tahun 1997—setahun sebelum berubah menjadi UNY. Pembukaan itu kemudian mendapatkan animo yang cukup banyak. Mayoritas pendaftar adalah lulusan Sekolah Teknik Mesin (STM). Mereka mengakui hendak mengasah kemampuan praktisnya di jenjang D3. “Waktu itu saya ingin langsung kerja. Jadi, selepas STM langsung ambil D3,” ungkap Saryono, alumnus tahun 1999.

Sementara itu, pada tahun 2004, Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana (PTBB) mendapatkan hibah. Kesempatan emas itu didapatkan dari Community College yang memberikan kesempatan mengembangkan program satu tahun untuk konsentrasi rias. Setahun kemudian, program D3 dibuka dan pada 2006-2008 mendapatkan hibah kompetisi A3 dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) senilai 2,4 miliar. Dana tersebut digunakan untuk meremajakan fasilitas laboratorium. Pencapaian PTBB mencapai puncaknya pada tahun 2007: mendapatkan sertifikasi ISO.

Pencapaian itu masih harus terus dilanjutkan. Menengok tetangga, UGM, D3 UNY masih berusia jagung. Di kampus biru, program diploma dimulai sejak pembukaan Pendidikan Ahli Teknik (PAT) pada 1977. Enam tahun berikutnya, karena proses edukasi dan administrasi, PAT berubah menjadi Fakultas Non Gelar Teknologi.

Namun, sejak 1991, ia kemudian menginduk jurusan teknik dan berubah menjadi program studi. “Ketika semua prodi D3 disatukan ke dalam sekolah vokasi, kami memiliki 9000-an mahasiswa. Bayangkan saja fakultas baru punya mahasiswa sebanyak itu?” jelas Wikan Sakarinto, ST.,MSc., Ph.D., dosen D3 Teknik Mesin, UGM.

Di UGM, lulusan D3 dibekali tiga komponen pokok supaya siap saing di dunia kerja. “Contohnya di teknik mesin. Kami menyiapkan lulusan agar mumpuni dalam kemampuan teknis (skill) dan pengetahuan teknis (knowledge). Tapi lambat-laun kami juga menambahkan kompetensi komunikasi, terutama bahasa Inggris,” katanya. Menurut Wikan, kemampuan komunikasi bahasa internasional itu sangat penting. “Apalagi sekarang sudah masuk MEA.”

Melanjutkan sejarah D3, menurut Sutrisna Wibawa, akan menjadi prioritas utama dalam kepemimpinannya. “Sebelum D3 kami satukan di Wates dalam satu lingkup sekolah vokasi, kami akan menyiapkan laboratorium dahulu,” jelasnya. Menurutnya, tanpa laboratorium, sekolah vokasi mustahil berjalan kondusif. Di situ Rektor UNY akan membuat sejarah baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here