Bulan Bahasa,

Sejenak Belajar Kritis

 

Rony K. Pratama

 

“Distingsi antara hoaks dan informasi faktual kian mengabur. Publik makin sukar membedakan keduanya, kecuali bersedia keluar dari tempurung kesempitan berpikir”

 

Bulan Oktober dirayakan sebagai bulan bahasa. Membincang bulan bahasa kerap kali diasosiasikan menjadi momen reflektif praktik berbahasa kita. Terutama pengunaan bahasa Indonesia di era media sosial. Hoaks, viral, ujaran kebencian, algoritma, dan istilah-istilah familier lainnya lekas memenuhi perbendaharaan kata di kepala. Tanpa terlebih dahulu menelisik makna literal maupun kontekstual di dalamnya, kita begitu saja merasa akrab dengannya.

 

Orang menyebut kini masuk era digital. Apa pun serba di atas layar. Terkoneksi oleh jaringan siber, segala aktivitas seakan-akan tampak mudah, cepat, sangkil, dan mangkus. Paket kemudahan demikian di satu sisi dianggap malapetaka, sedang di sisi lain dinyatakan semacam anugerah. Pandangan dikotomis begitu selalu menggelayuti pikiran sebagian masyarakat.

 

Tapi kebanyakan tak menyadari bahwa semua itu dipertautkan oleh, dari, dan melalui bahasa. Apa pun bahasa yang dipakai, jagat internet mengondisikan pemakainya untuk menjalankan aturan main yang serupa: berbahasa dimungkinkan karena mengikuti alur sistem yang beroperasi. Sistem di sini dapat berarti perangkat berpikir, berinteraksi, maupun berkontestasi.

 

Praktik berbahasa di media sosial dalam pengertian teori media kontemporer, mengimplikasikan kecenderungan kita untuk melakukan dua aktivitas sekaligus, yakni produksi dan konsumsi informasi. Pada saat yang sama kita mampu menyerap informasi dari mana pun dengan beragam pilihan secara manasuka. Sedang pada titimangsa yang sama kita bebas memproduksi informasi di kanal serupa. Membaca dan menulis pada aras ini seolah-olah berjalan lekas.

 

Problem etis berikutnya adalah kita terlalu gegabah mendaras sekaligus memproduksi informasi tanpa daya kritis. Temuan terakhir menyebutnya sebagai nirliterasi, sehingga orang mudah tertipu dan menyebarkan konten hoaks. Masyarakat “rentan informasi”, dengan demikian, tepat mengilustrasikan situasi-kondisi yang marak terjadi di sekitar kita.

 

Malapetaka Mutakhir

Belakangan di media sosial gempar akan posisi buzzerkarena dianggap pemicu keretakan kohesi sosial. Ia merupakan agensi tertentu yang sengaja dioperasikan agar informasi yang beredar memporak-porandakan akal sehat. Ia memanfaatkan kegagapan dan kegugupan warganet yang tiap detik lengah terhadap bacaan yang dikonsumsinya. Distingsi antara hoaks dan informasi faktual kian mengabur. Kita menjadi sukar membedakan keduanya, kecuali bersedia keluar dari tempurung kesempitan berpikir.

 

Setidaknya terdapat dua pola yang dapat dipelajari dari peredaran hoaks dan peran buzzer. Pertama, buzzer bekerja melalui tema-tema aktual yang sedang menjadi buah bibir di antara masyarakat. Paling sering ia menyasar isu-isu politik nasional. Kita bisa melihat kondisi ini beberapa pekan terakhir bagaimana dinding media sosial dibercaki wacana tersebut. Buzzertak mungkin memproduksi konten propaganda bermuatan hoaks tanpa preferensi tren komunal.

 

Kedua,buzzerbukan hanya terdiri atas satu pihak, melainkan sekelompok orang. Mereka bekerja sama untuk saling menaikkan topik secara militan supaya mencapai viral. Bila konten yang diangkat banyak disukai dan dibagi, maka ia merasa berhasil. Apalagi orang yang membagikan itu tak sebatas bot(akun robot) tapi juga “warganet riil” sehingga pola ekspansinya begitu total. Yang terakhir inilah yang sesungguhnya problematis.

 

Bagaimana menyetop kinerja buzzeryang meresahkan itu? Pengawasan dan pemejahijauan melalui mekanisme hukum yang berlaku harus ditandaskan. Di samping itu, sebagai warganet, kita hendaknya memutus rantai itu melalui tindakan kritis. Pertama-tama hoaks mustahil menyebar manakala kita memiliki kesadaran eling lan waspada untuk tak tergesa-gesa membagikan informasi.

 

Sebetulnya nilai leluhur seperti aja kagetan pun sudah menjadi modal penting secara etis. Namun, kerap kali ia sekadar diwacanakan tanpa dikontekstualisasikan ke dalam praksis kekinian, utamanya dalam laku bermedia sosial. Praktik dari nilai itu adalah mencurigai tiap informasi yang dibaca dan senantiasa membandingkan versi lain sebagai penguat. Tanpa komparasi, alih-alih kita menerapkan laku kritis, malah yang terjadi justru terjebak pada kacamata kuda.

 

Kewaskitaan atau ketajaman terhadap informasi ialah bentuk resistensi kita di media sosial. Kita acap kali banal dalam melihat realitas maya karena seolah-olah informasi yang beredar di media sosial itu sudah pasti benar. Padahal, tiap bangunan informasi selalu terkonstruksi, terikat oleh kepentingan politik partikukar. Dalam momen bulan bahasa ini baiknya kita mewaspadai segala bentuk pem-framing-an informasi. Yang terlihat menarik belum tentu benar secara faktual. Kebenaran pun juga relatif. Benar menurut siapa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here