“Lafran tetap manusia biasa. Di balik kewibawaannya itu tersimpan kesederhanaan. Sampai akhir hayat ia tinggal di rumah dinas IKIP”

SEHARI sebelum Hari Pahlawan 10 November bejibun atribut penyambutannya mulai terpasang. Baik di dusun maupun media sosial turut memeriahkannya. Bendera merah putih menjadi simbol kepahlawanan itu. Narasi perjuangan distatuskan warganet. Facebook, Instagram, dan Twitter penuh tagar hari pahlawan.

 

Sementara di Istana Negara, Kamis 9 November, Presiden Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan kepada empat tokoh. Termasuk diberikan kepada Lafran Pane, generasi IKIP Negeri Yogyakarta (UNY) sekaligus pendiri HMI.

 

Acara berlangsung khidmat. Anugerah diterima anak kandung Lafran. Mahfud M.D., mantan Ketua MK (2008-2013), menjelaskan pengusulan anugerah pahlawan itu telah direncanakan lama. “Pengusulannya dari daerah, naskah akademik juga sudah.

 

Seminar sudah 27 di perguruan tinggi. Tahun lalu sudah memenuhi syarat,” jelasnya, seperti dikutip viva.co.id. Kiprah Lafran di masa kemerdekaan dan perjuangannya sebagai akademikus dianggap Mahfud pantas diakui sebagai pahlawan bangsa.

 

Di balik heorisme Lafran tersimpan kisah sederhana. Syahdan, Hariqo, penulis buku Lafran Pane: Jejak Hayat dan Pemikirannya, bertandang ke rumah Lafran di kompleks dosen IKIP di Jalan Affandi, Yogyakarta.

 

Hariqo menemui istri Lafran pada suatu siang. “Saya tanya kepada istrinya ini rumah Pak Lafran?” Sontak dijawab tegas sang istri: “Bukan. Ini rumah kampus.” Jawaban itu membuat Hariqo tercengang.

 

Dalam tulisannya itu Hariqo menulis bahwa pendiri HMI itu pernah diminta segera pindah rumah. “Ada orang baru yang hendak menempati.” Dedikasi Lafran sebagai dosen IKIP dan sejumlah kampus Yogyakarta lain membuat namanya harum di kalangan intelektual kampus pada masanya.

 

Mahfud pernah menyaksikan kesederhanaan Lafran manakala berangkat mengajar. Ia menulis kesaksian itu di Jawa Pos berjudul Lafran Pane Pahlawan Kita.

 

“Ketika pada pengujung 1980-an dosen-dosen muda seperti saya yang jabatan akademiknya baru lektor muda (dengan pangkat III/c) berangkat mengajar naik Daihatsu Hijet atau Suzuki Carry, Lafran yang jabatan akademiknya sudah profesor/guru besar (dengan pangkat IV/e) menuju kampus setiap hari dengan mengendarai sepeda onthel (kereta angin). Begitu sederhananya Prof Lafran itu.”

 

Cucu pertama Lafran, Tofani Arief Budiman Pane, mengakui kesederhanaan kakeknya. “Beliau tidak punya rumah pribadi. Beliau dan keluarga tinggal di kompleks Rumah Dinas IKIP di Karangmalang di daerah Gejayan hingga beliau menghembuskan napas terakhirnya,” jelasnya, sebagaimana dilansir metrotvnews.com.

 

Senada dengan keterangan Mahfud, Tofani melihat kakeknya selalu menolak untuk membeli motor atau mobil. “Selain sepeda onthel, katanya, “Lafran sering menggunakan angkutan umum atau becak.”

 

Lafran pernah menjadi anggota Dewan Penasihat Presiden Soeharto. Fasilitas rumah pribadi dan mobil diberi cuma-cuma. Namun, tawaran itu ditolak Lafran mentah-mentah. Tak ingin merepotkan negara.

 

Lafran lebih memilih hidup sederhana di rumah dinas IKIP. Sekalipun demikian, menurut Tofani, kakeknya mempunyai perangai disiplin yang total. Nilai disiplin itu Lafran tanamkan manakala sedang makan bersama di meja makan bersama keluarga.

 

“Jadi makanan hanya ada saat jam makan. Semua anggota keluarga harus makan di meja makan. Di luar jam makan, tidak ada makanan di meja makan,” kisah Tofani. Potret kesehajaan demikian merupakan pelajaran berharga bagi genersi milenal. Secara praktis Lafran telah menerapkan pendidikan karakter.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here