Panas dan dingin berhembus beriringan dari Barat. Temuan saintifik diperbincangkan sengit. Ilmuan lintas disiplin menggelar sarasehan ilmiah. Mereka sedang fokus, dengan perasaan cemas dan kagum sekaligus, menyoal kecerdasan buatan (artificial intelligence). Jurnalis menyingkatnya sebagai AI.

Babak baru telah dimulai. AI menuai pro dan kontra. Jamak masyarakat dunia menyambut dengan girang. Sedangkan banyak pula yang ketar-ketir. Pekerjaan manusia kini lebih ringan. AI meneken di setiap sektor. Menawarkan prinsip cepat, efektif, dan efisien, AI bak dewa fortuna. Di balik ketercapaian itu manusia bertanya-tanya. Dia mengendalikan atau dikendalikan?

Abad ke-21 melahirkan anak zaman bernama Revolusi Industri 4.0. Klaus Schwab, pendiri sekaligus pimpinan eksekutif World Economic Forum (WEF), menyebut era ini seperti gelombang. Istilah ini persis seperti apa yang acap dinyatakan Alvin Toffler, futurolog Amerika. Alvin pernah mengguncang dunia tahun 60-an lewat buku masyhurnya Future Shock (1960), The Third Wave (1980), dan Powershift (1980).

Klaus dan Alvinhidup di dua zaman yang terpautkan oleh sebuah prediksi ilmiah. Keduanya sama-sama peduli terhadap situasi manakala teknologi berdampak signifikan terhadap kehidupan manusia. Alvin sudah wafat tapi karyanya masih hidup di benak khalayak. Sedangkan Klaus, di usia hampir berkepala delapan, terlihat segar-bugar dengan pemikiran cerdas di muka publik WEF.

Revolusi Industri 4.0 dinarasikan oleh peran dan fungsi internet. The internet of things (IOT), diistilahkanRichard E. Crandalldalam tulisannya bertajuk Upgrading Smart Manufacturing with Industry 4.0 (2017), menjadi ciri khas Revolusi Industri 4.0 bekerja. Ini kemudian berpengaruh ke tiap multidisiplin ilmu.

Gojek, Uber, Grab, HappyFresh, dan pelbagai startuplain bermunculan. Bisnis berbasiskan internet itu kian menjamur. Mereka menginduk di bawah diskursus Revolusi Industri 4.0. Bila dekade lalu semua jasa dilakukan manual, kini berubah drastis hanya lewat navigasi telepon pintar. Cukup menatap layar, jemari menari, dan klik, semua masalah terpecahkan.

Teknologi baru kerap membawa maut. Persaingan usaha di dunia maya yang semakin sengit mengundang iklim pasar bebas. Siapa cepat dan cerdas siasat, dia niscaya meraup untung. “Keadaan ini disebut disrupsi,” tegas Klaus. Dia benar. Yang ikut menggenjot jagat digital pasti diuntungkan. Yang masih bertahan di arus tradisional terseok-seok.

Klaus mengingatkan bumerang teknologi. Richard menguatkan dengan menyibak rekam jejak historis Revolusi Industri. Gelombang pertama hingga keempat. Pada tiap linimasa, menurut Richard, “Menorehkan dampak positif dan negatif sesuai tantangan zaman.” Dia kilas balik ke zaman tatkala jelaga masih berteberangan lewat corong-corong pabrik.

Eropa akhir abad ke-18. Revolusi Industri 1.0 pecah usai bangsa Anglo-Saxon bangkit dari kegelapan. Ilmuan bahu-membahu menciptakan iklim ilmiah. Penemuan dihela dalam rangka renaisans demi keluar dari belenggu pesimisme.“Masin berenergikan uap dikembangkan besar-besaran untuk membantu para buruh pabrik,” tulisnya, seperti dikutip apics.org.

Jumlah produksi ditingkatkan seiring dengan melejitnya kebutuhan pasar. Bentuk pabrik pada masa ini belum sepenuhnya jumbo. Bisnis perseorangan, bahkan berskala keluarga, tumbuh pada tiap dusun di dataran Eropa. Friksi antarperusahaan tak jarang mengemuka. Kapitalisme dalam spektrum mikro lahir dari sini.

Ilmuan tumbuh bersama denyut pertanyaan yang tak pernah usai. Selang seabad, Revolusi Industri 2.0 lahir menggantikan energi uap.Tenaga elektrik jaya di menara gading. Temuan ini heboh pada permulaan abad ke-20. Energi listrik dianggap lebih canggih ketimbang uap. “Bisnis tambah meroket karena temuan besar ini,” paparnya.

Pada sektor industri, produksi massal mengepakkan sayap. Kantong-kantong ekonomi diviralkan ke penujuru dunia. Tak heran jika pada abad itu membentuk pola, “Dari pengumpulan modal menjadi distribusi modal.” Perusahaan banyak membuka cabang di luar Eropa. Asia, terutama, menjadi incaran empuk.

Setengah abad kemudian terjadi perkawinan teknologi: perkakas elektronik dan sirkuit cip. Komputer generasi pertama ditemukan di era ini—kemudian disebut Revolusi Industri 3.0. Sekitar tahun 60-an, di Barat, terutama Amerika Serikat, melegitimasikan diri sebagai negara adikuasa. Di tanah Paman Sam itu komputer dikembangkan. Perbincangan mengenai teknologi informasi dan komunikasi tumbuh subur.

“Periode ini bisa dilihat dengan kuatnya pengembangan software dan hardware,” tutur Richard. Peranti lunak difungsikan guna mengendalikan perkakas keras. Komputer model pertama, sebagai contoh, digerakan lewat instruksi-instruksi kalkulatif di atas layar. Mekanisme ini banyak berutang budi terhadap ilmu matematika. Khususnya ranah algoritme.

Tiga gelombang revolusi dijelaskan Richard secara ringkas. Dia menuturkan tak akan ada gelombang empat tanpa temuan sebelumnya. Sifat teknologi, bagi Richard, saling berpaut. Keadaan ini kemudian mengimplikasikan banyak hal. Manusia diuntungkan atau dirugikan, kata Shakespeare, “That is the question.”

***

Gelombang Revolusi Industri melesat dan menembus dinding-dinding negara. Di hadapannya semua bangsa dianggap sama. Menerima atau menolak adalah dua pilihan dilematis. Mohamad Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, gayung bersambut. Dia melihat keadaan itu seperti ungkapan arkais Jawa: eling lan waspada.

Selaku menteri Nasir menyiapkan strategi dan siasat menghadapi Revolusi Industri 4.0. Perguruan tinggi sebagai wilayah kebijakannya dipersiapkan matang. “Pendidikan tinggi harus sepenuhnya menyiapkan diri dari disrupsi teknologi,” ujarnya. Segala bentuk praktik pendidikan, menurut Nasir, harus relevan dengan iklim Revolusi Industri 4.0.

Nasir menyentil tantangan ekonomi digital. Dia menjelaskan keterkaitan antara Revolusi Industri 4.0 dan atmosfer ekonomi dunia saling tarik-menarik. “Sebanyak 75-375 juta tenaga kerja global telah beralih profesi ke lapak internet,” paparnya. Transisi tenaga kerja dunia itu terus memuncak hingga 2030. McKinsey (2017) melihat munculnya teknologi baru yang sedang menggeliat itu menyebabkan perubahan besar-besaran. Terutama ekonomi dan industri.

Teknologi digital digunakan di seluruh sektor ekonomi. Keadaan ini dicatat The Economist, “Sebagian besar perusahaan menggunakan teknologi untuk menjual produk mereka secara online.” Media terprestius itu menyebut hybrid jobs untuk menyebut tiga komponen ekonomi digital: coding, big data/data analyst, dan artifical intelligence. Ketiganya merupakan hasil persilangan ICT, digital media, dan content.

Belum lama ini Presiden Jokowi berfatwa. “Pemimpin perguruan tinggi wajib mendukung inovasi untuk menghadapi perubahan global dan memenuhi kebutuhan sumber daya manusia Indonesia yang kreatif, inovatif, dan kompetitif.” Pesan ini Nasir tafsirkan melalui terobosan sejumlah program antara lain rekonstruksi kurikulum.

“Keterampilan yang lebih luas,” urai Nasir, “meliputi coding, big data, dan artificial intelligence.” Dia menambahkan pula agar pembelajaran diperluas. Tak sekadar klasikal seperti tatap muka, tapi juga virtual-daring. Keduanya, bagi Nasir, bisa juga dicampur setengah-setengah porsinya.

Nasir melihat biaya kuliah semakin mahal. Jumlah dosen dan mahasiswa tak sebanding. “Kuantitas dosen terbatas, sedangkan jumlah mahasiswa semakin banyak tiap tahunnya,” katanya. Pada 15 Desember 2017, Litbang Kompas, melakukan survei terhadap 448 responden.

Hasilnya menunjukan sebesar 79,5% mengatakan biaya universitas kian meroket. Forlap Dikti menambahkan warta itu. Menurutnya, sebanyak 4.570 universitas di Indonesia, terdapat kurang dari lima juta mahasiswa dan dua ratus tujuh puluhan ribu dosen. Citra ini sedemikian kontras. “Solusinya memanfaatkan TIK untuk peningkatan produktivitas (efektivitas dan efisiensi) dengan tetap mempertahankan mutu,” ungkap Nasir.

Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Amerika Serikat, Singapura, dan negara-negara lain di Eropa telah mulai menyelenggarakan kuliah daring. Prinsipnya tegas, “One professor, thousand students.” Kebijakan ini menuai pujian sekaligus kecaman. Dari efektivitas penyampaian pengetahuan hingga pengikisan ruh pendidikan. Semua itu masih diperdebatkan dan belum ditemukan titik temu.

Nasir melihat peluang besar kuliah virtual. Yang jelas, baginya, pendidikan tinggi harus merespons disrupsi. “Perguruan tinggi wajib melaksanakan proses inovasi produk melalui inkubasi dan pembelajaran berbasis industri,” tegasnya.

Senada dengan Nasir, Intan Ahmad, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, menitikberatkan pada relevansi pendidikan dan pekerjaan. “Di sini perlu disesuaikan dengan perkembangan era dan IPTEK. Harus tetap juga memberikan perhatian kepada aspek kemanusiaan.” Tentunya penyiapan ini merupakan manifestasi dari eling lan waspada.

***

Nada optimis terpancar jelas dari status Facebook Rektor UNY, Sutrisna Wibawa. “InsyaAllah siap diluncurkan awal Maret 2018. Membuka cakrawala dunia melalui Digital Library,” sambil diikuti empat foto gres. Perpustakaan digital yang baru saja dibangun tepat di sebelah barat gedung rektorat itu tinggal diresmikan. Bangunan empat lantai bermotifkan batik ini adalah wajah UNY menatap hari depan. Gelombang Revolusi Industri 4.0 siap ditendang.

Sutrisna optimis kampus negeri kependidikan di Yogya ini siap menerjang era disrupsi. Berbekal jargon smart and smile, dia menyinergikan segenap potensi UNY di muka internasional. Perpustakaan digital adalah salah satunya. “Yang lain seperti kebijakan paperless di wilayah administrasi terus kami galakan. Ini semua untuk menyambut revolusi industri 4.0,” ujarnya.

Penyebaran informasi dan komunikasi, lanjut Sutrisna, kini lebih efektif lewat media sosial.Itu kenapa dia aktif di dua portal komunikasi seperti Facebook dan Instagram. Dua aplikasi terbesar di dunia maya itu digunakan Sutrisna untuk sekadar menyapa warganet maupun klarifikasi informasi.

Seperti secarik pengunguman yang viral di kalangan dosen, mahasiswa, dan pegawai UNY awal semester lalu. Surat palsu itu sempat menyebar dan dipercaya—terutama mahasiswa—itu langsung ditanggapi. “Ada yang usil bikin surat palsu. Kegiatan akademik tetap sesuai kalender akademik. Zaman now ana-ana wae,” tulis Sutrisna, sambil membubuhi ekspresi terkekeh.

UNY periode kepimpinan Sutrisna terbuka lebar terhadap pembaruan. Keterbukaan ini, menurut Intan, menjadi faktor terpenting kesuksesan sebuah universitas. Baginya, perguruan tinggi perlu memahami reorientasi literasi baru. Definisi literasi, antara era Revolusi Industri 4.0 dan 3.0, dengan kata lain, berbeda tegas. “Literasi tidak hanya cukup mengenai membaca, menulis, dan matematika sebagai modal dasar untuk berkiprah di masyarakat.”

Mengacu pada definisi baru, terutama mahasiswa UNY, harus memiliki kecakapan literasi data, teknologi, dan manusia. Joseph E. Aoun, penulis buku berjudul Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence (2017), menjelaskan ketiganya secara bernas.

Literasi data mendorong kemampuan membaca, analisis, dan menggunakan informasi (big data) di jagat digital. Literasi teknologi berkelindan dengan memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi (coding, artificialintelligence, dan engineeringprinciples). Literasi manusia berkaitan dengan kemanusiaan, komunikasi, dan desain yang melibatkan dimensi afeksi, kognisi, dan psikomotor.

Ditjen Belmawa membuka peluang mahasiswa menempa kompetensi literasi digital. Belmawa meluncurkan Sistem Pembelajaran Daring Indonesia (SPADA). Fasilitas ini terhubung melalui IdREN—sebuah platform hasil sinergi Telkom dan Kemenristekdikti. Aplikasi ini terbuka luas bagi mahasiswa untuk meneroka bejibun pengetahuan di dunia maya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here